Kemampuan matematika pada generasi muda di seluruh dunia kembali dinilai melalui hasil Programme for International Student Assessment (PISA) 2022 yang dirilis oleh OECD. Hasil ini menunjukkan bahwa Indonesia masih belum mampu bersaing di antara negara-negara dengan skor tertinggi dalam penilaian tersebut.
PISA adalah alat ukur yang mengevaluasi kemampuan siswa berusia 15-16 tahun, khususnya dalam memecahkan masalah dunia nyata yang berhubungan dengan matematika. Pengukuran ini penting karena bisa menjadi indikator kualitas sumber daya manusia di masa depan.
Skor yang diperoleh dalam PISA tidak hanya mencerminkan kemampuan dasar berhitung, tapi juga kemampuan analitis, pemecahan masalah, dan kesiapan menghadapi era ekonomi berbasis teknologi. Negara-negara dengan skor tinggi menunjukkan kesiapan lebih baik dalam menghadapi tantangan seperti otomatisasi dan teknologi canggih.
Negara-negara di Asia kembali menunjukkan dominasi dalam hasil PISA global. Singapura menjadi pemimpin dengan skor 575, jauh melampaui rata-rata OECD yang hanya 472. Berikut ini adalah enam negara dan wilayah dengan skor matematika tertinggi dalam penilaian PISA ini:
1. Singapura – 575
2. Macau (China) – 552
3. Taiwan – 547
4. Hong Kong – 540
5. Jepang – 536
6. Korea Selatan – 527
Setelah Asia, negara-negara Eropa dan Amerika Utara turut mengisi peringkat atas. Estonia dengan skor 510 dan Swiss dengan 508 menjadi wakil terbaik untuk Eropa. Kanada pun mencatatkan skor 497, menempatkannya di posisi sembilan dunia.
Satu hal yang menarik adalah beberapa negara besar justru berada di bawah rata-rata skor OECD. Negara-negara seperti Prancis (474), Spanyol (473), dan Italia (471) menunjukkan bahwa tantangan pendidikan matematika juga dapat menghinggapi negara dengan sistem pendidikan yang mapan.
Hasil PISA ini juga memperlihatkan kesenjangan yang signifikan di antara negara-negara unggulan dan negara berkembang terkait kualitas pendidikan matematika. Rata-rata skor OECD menunjukkan tantangan yang dihadapi oleh banyak negara dalam meningkatkan performa pendidikan mereka.
Peringkat Global dalam Kemampuan Matematika Anak Muda
Ulasan dari hasil PISA ini membawa perhatian pada negara-negara yang berhasil mencetak prestasi tinggi. Singapura, sebagai pemimpin, tidak hanya menyediakan pendidikan berkualitas tinggi tetapi juga menerapkan metode pengajaran yang inovatif. Hal ini membantu siswa mengembangkan pemahaman mendalam tentang konsep matematika.
Sementara itu, Macau dan Taiwan juga menunjukkan peningkatan yang signifikan, menandakan bahwa kebijakan pendidikan mereka memberikan hasil yang positif. Kedua wilayah ini dapat menjadi model bagi negara lain yang ingin memperbaiki kualitas pendidikan matematika.
Hong Kong dan Jepang, yang juga berada di peringkat atas, terus berinvestasi dalam sumber daya pendidikan. Mereka mengembangkan kurikulum dan pelatihan guru yang sesuai dengan perkembangan zaman, sehingga siswa lebih siap menghadapi tantangan matematika yang kompleks.
Perbandingan dengan Negara Eropa dan Amerika Utara
Peringkat Estonia dan Swiss sebagai penyumbang skor tinggi dari Eropa menunjukkan bahwa meskipun mereka bukan negara besar, pendekatan sistem pendidikan mereka sangat efektif. Pendidikan di Estonia, misalnya, menekankan pada metode pembelajaran yang menyenangkan dan partisipatif.
Di sisi lain, Kanada mengadopsi pendekatan inklusif dalam pendidikan, yang memungkinkan semua siswa mendapatkan akses yang sama terhadap sumber belajar. Ini menjadi salah satu faktor keberhasilan siswa di negara tersebut.
Peringkat yang lebih rendah yang diperoleh oleh negara-negara besar seperti Prancis dan Amerika Serikat menunjukkan bahwa meskipun mereka memiliki sumber daya yang melimpah, permasalahan dalam sistem pendidikan sering kali menimbulkan hasil yang tidak memuaskan. Reformasi yang diperlukan menjadi tantangan tersendiri bagi mereka.
Kesenjangan Pendidikan Matematika Antara Negara Berkembang dan Maju
Hasil PISA memberikan gambaran nyata tentang kesenjangan pendidikan yang terjadi secara global. Negara-negara maju cenderung memiliki sistem pendidikan yang lebih matang dan terintegrasi, sementara negara berkembang sering kali masih berjuang untuk memenuhi standar pendidikan dasar yang diperlukan.
Disini, penting untuk menyoroti bahwa kesenjangan ini tidak hanya terjadi pada tingkat pendidikan formal, tetapi juga pada akses terhadap sumber daya pendidikan yang berkualitas. Di banyak negara berkembang, ketersediaan buku, teknologi, dan pelatihan guru masih menjadi masalah utama.
Dengan pemahaman yang lebih baik tentang tantangan ini, upaya untuk memperbaiki kualitas pendidikan matematika di negara-negara berkembang dapat dilakukan dengan lebih terfokus. Hal ini memerlukan kerjasama antar negara dan adopsi praktik terbaik dari negara-negara yang telah berhasil meningkatkan kinerja siswa mereka.








