Lupa tujuan saat memasuki ruangan atau kehilangan alur cerita saat berbicara adalah fenomena yang banyak dialami oleh orang. Meskipun hal ini dapat menimbulkan kecemasan, sering kali bukan tanda penurunan fungsi otak yang serius.
Menurut psikolog klinis, Sarah Garcia Beaumier, fenomena ‘otak tiba-tiba nge-blank’ lebih sering disebabkan oleh faktor psikologis daripada gangguan saraf. Stres, multitasking, kecemasan, dan depresi merupakan penyebab umum yang memicu kondisi ini.
Penurunan kognitif biasanya ditandai dengan memburuknya kemampuan memori, perhatian, dan bahasa. Contohnya, orang bisa jadi lebih sering lupa melakukan hal-hal penting atau kesulitan mengekspresikan diri secara efektif.
Penting untuk diingat bahwa tidak semua gangguan kognitif berkembang menjadi demensia. Beberapa orang dengan gangguan kognitif ringan dapat mengalami perbaikan, terutama jika masalah psikologis ditangani dengan baik.
Memahami Tanda-Tanda Penurunan Kognitif dan Penyebabnya
Stres dan kecemasan bisa memengaruhi bagaimana otak berfungsi dalam mengatur perhatian, perencanaan, dan pengambilan keputusan. Dalam keadaan siaga yang berkepanjangan, kemampuan berpikir bisa menurun drastis.
Area otak yang berkaitan dengan emosi juga berhubungan erat dengan fungsi perencanaan dan pengambilan keputusan. Dalam situasi stres yang berkepanjangan, otak berfokus pada respons bertahan hidup, yang menyebabkan kemampuan berpikir kompleks menurun.
Pemahaman ini penting agar kita bisa lebih waspada terhadap tanda-tanda awal penurunan fungsi otak. Dengan mengenali dan menangani stres dan kecemasan secara tepat, kita dapat menghentikan penurunan kognitif lebih jauh.
Gejala Umum Penurunan Kognitif yang Perlu Diketahui
Sulit mengatur dan menyelesaikan tugas adalah salah satu gejala yang paling umum. Seseorang yang terbebani oleh stres dapat kesulitan untuk fokus pada tugas yang dihadapi.
Selain itu, seseorang yang mengalami penurunan kognitif mungkin sering kesulitan menemukan kata yang tepat saat berbicara. Ini bisa menjadi pertanda adanya masalah bahasa yang lebih serius.
Kehilangan minat pada kegiatan yang sebelumnya disukai juga menjadi salah satu tanda. Ketika seseorang mulai menarik diri dari aktivitas yang biasa mereka nikmati, ini patut mendapat perhatian khusus.
Perubahan Perilaku dan Emosional yang Nyata
Perubahan kepribadian dapat terjadi tanpa disadari. Seseorang yang menjadi lebih pendiam atau mudah marah mungkin tidak menyadari perubahannya, tetapi orang terdekat bisa melihat perbedaannya.
Perubahan dalam sikap ini sangat penting untuk diperhatikan, karena bisa menandakan adanya masalah dalam fungsi otak. Kesadaran akan perubahan ini dapat membantu proses diagnosis dini.
Terus-menerus merasa cemas dan overthinking juga dapat mengganggu konsentrasi dan daya ingat. Ketika pikiran dipenuhi oleh kekhawatiran, otak menjadi lelah dan akhirnya menurunkan kemampuan kognitif.
Langkah-Langkah untuk Meningkatkan Fungsi Kognitif
Salah satu langkah untuk melindungi kesehatan otak adalah dengan menjaga pola makan yang sehat. Mengonsumsi makanan yang kaya akan antioksidan seperti buah-buahan dapat membantu mendukung kesehatan otak.
Selain itu, aktivitas yang merangsang mental seperti membaca, bermain musik, atau aktivitas kreatif lainnya juga sangat dianjurkan. Kegiatan semacam ini dapat membantu menjaga fungsi otak tetap aktif dan sehat.
Interaksi sosial juga berperan penting dalam menjaga kesehatan mental dan kognitif. Berpartisipasi dalam kegiatan komunitas atau berkumpul dengan teman-teman dapat merangsang pikiran dan perasaan positif.





