Jutaan warga di New Delhi, ibu kota India, saat ini menghadapi krisis air bersih yang serius. Hal ini disebabkan oleh lonjakan kadar amonia di Sungai Yamuna, yang merupakan sumber utama pasokan air bagi daerah tersebut, dan menyebabkan beberapa instalasi pengolahan air terpaksa ditutup.
Tingginya pencemaran amonia tersebut berakar dari limbah industri yang mencemari sungai, memicu penutupan enam dari sembilan instalasi pengolahan air. Walau pihak berwenang mengklaim bahwa pasokan air telah dipulihkan, banyak warga yang masih merasakan dampak nyata dari situasi ini.
Ravinder Kumar, seorang warga dari Sharma Enclave, menyatakan bahwa air bersih hanya mengalir satu jam setiap tiga hari. Dalam keadaan seperti ini, ia dan keluarganya terpaksa harus menunggu untuk bisa mandi, dan banyak yang kesulitan mendapatkan air bersih untuk kebutuhan sehari-hari.
Krisis ini bukan hanya masalah lokal, namun juga berdampak pada kesehatan dan kesejahteraan jutaan jiwa. Sungai Yamuna, yang dianggap suci oleh banyak penduduk, kini tidak lagi dapat diandalkan sebagai sumber air bersih karena polusi yang semakin parah. Dengan sejarah yang kaya, sungai ini kini menjadi gambaran menyedihkan dari pengelolaan limbah yang buruk.
Dewan Air Delhi melaporkan bahwa setidaknya 43 kawasan yang dihuni sekitar dua juta orang mengalami gangguan pasokan air. Di beberapa wilayah, warga bahkan terpaksa hidup tanpa air selama beberapa hari, mengandalkan sumber-sumber alternatif yang tidak selalu aman.
Pada tanggal 24 Januari, pihak berwenang menyatakan bahwa pasokan air telah kembali normal, namun kenyataannya masih jauh dari harapan. Banyak warga melaporkan bahwa air yang mereka terima berwarna kuning dan memiliki bau yang tidak sedap, merugikan kesehatan mereka dan menciptakan ketidakpastian dalam kehidupan sehari-hari.
Penyebab Utama Krisis Air di New Delhi
Pencemaran Sungai Yamuna disebabkan oleh limbah industri yang terus mengalir ke dalam sungai tanpa pengolahan yang memadai. Ini menjadi masalah serius karena air sungai digunakan untuk memenuhi sekitar 40% kebutuhan warga Delhi, namun polusi yang tinggi membuat air tersebut tidak dapat lagi diolah dengan aman.
Studi menunjukkan bahwa hanya sekitar 2% aliran sungai di wilayah ibu kota yang dapat dianggap bersih, meskipun tetap menyumbang 76% dari total polusi yang ada. Kandungan oksigen terlarut dalam air seringkali turun menjadi nol, menyebabkan kematian kehidupan air dan menjadikan sungai sebagai saluran limbah terbuka.
Lapisan busa putih beracun yang menghiasi permukaan sungai jelas mencolok, menjadi simbol nyata dari krisis yang sedang berlangsung. Para aktivis mencoba membersihkan daerah sekitar sungai, namun mereka menyadari bahwa usaha ini tidak menyentuh akar masalah yang seharusnya diselesaikan.
Selama bertahun-tahun, batas-batas kota berkembang tanpa perencanaan yang tepat. Jutaan orang tinggal di permukiman ilegal yang tidak memiliki sistem pipa yang memadai, sehingga limbah rumah tangga dan industri mencemari tanah dan bahkan cadangan air tanah.
Upaya Pemerintah Mengatasi Krisis Air
Pemerintah Delhi telah berkomitmen untuk meningkatkan kapasitas pengolahan limbah hingga dua kali lipat pada tahun 2028. Meskipun ini terdengar menjanjikan, banyak warga yang meragukan akan realisasinya, mengingat pengalaman pahit yang mereka alami sebelumnya.
Salah satu penduduk, Raja Kamat, mengungkapkan bahwa air di lingkungan mereka sempat mati total selama lima hari. Ketika air kembali mengalir, kondisi yang ada tidak jauh lebih baik; airnya hitam dan hanya dapat digunakan dalam waktu singkat.
Warga seperti Bhagwanti, seorang wanita berusia 70 tahun, merasakan kesulitan yang luar biasa. Ia menegaskan bahwa tidak ada fasilitas pembersihan yang memadai, dan dalam situasi yang serba sulit ini, kondisi kesehatan mereka pun memburuk.
Janji-janji dari pihak pemerintah tidak serta merta menghilangkan rasa skeptis dari masyarakat. Banyak yang merasa diabaikan dan tidak mendapatkan perhatian yang layak dari otoritas, terutama dalam hal kebutuhan dasar seperti air bersih.
Dampak Jangka Panjang Krisis Kualitas Air
Krisis air yang berkepanjangan dapat memicu beragam masalah kesehatan bagi penduduk. Kualitas air yang buruk berpotensi menyebarkan penyakit berbahaya dan mengancam kehidupan masyarakat, terutama bagi anak-anak dan orang tua yang lebih rentan.
Jika tidak ada tindakan konkret untuk memperbaiki kondisi ini, dampak sosial dan ekonomi pun akan semakin meluas. Kesehatan yang memburuk serta ketidakstabilan pasokan air dapat menghambat aktivitas sehari-hari penduduk, menambah beban mereka dalam menjalani kehidupan.
Secara keseluruhan, situasi ini mencerminkan tantangan besar yang dihadapi oleh kota-kota besar di negara berkembang. Tanpa adanya perencanaan yang baik dan pengelolaan sumber daya alam yang bijaksana, tantangan lingkungan akan terus memburuk dan mengancam kehidupan jutaan orang.
Pengelolaan limbah yang lebih baik dan upaya penyadaran masyarakat menjadi kebutuhan mendesak agar situasi ini dapat teratasi. Hanya dengan kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan sektor swasta, kita dapat berharap untuk melihat perubahan nyata dalam kualitas air dan keberlanjutan sumber daya di masa depan.








