Di tengah musim kemarau, warga New Delhi, ibu kota India, menghadapi krisis air bersih yang semakin memprihatinkan. Pencemaran amonia yang parah di Sungai Yamuna, yang merupakan sumber utama air di kota ini, telah menyebabkan banyak warga tidak mendapatkan pasokan air yang layak selama berhari-hari.
Krisis ini bukan hanya menjadi masalah bagi masyarakat, tetapi juga mengancam kesehatan dan kesejahteraan mereka. Air yang terkontaminasi membuat warga terpaksa menggunakan air kotor untuk kebutuhan sehari-hari, yang memicu kekhawatiran akan munculnya penyakit.
Ravinder Kumar, seorang ayah dari tiga anak, menggambarkan pengalaman sehari-hari yang sulit dihadapi oleh keluarganya. Dengan pasokan air yang hanya mengalir sekali dalam tiga hari, kehidupan di Sharma Enclave menjadi tantangan tersendiri bagi banyak keluarga yang tinggal di daerah tersebut.
Dampak Pencemaran Air bagi Masyarakat
Sungai Yamuna, yang dianggap suci oleh jutaan orang, kini terseok-seok akibat pencemaran limbah industri. Sebagai sumber utama kebutuhan air untuk Delhi, sekitar 40% air yang digunakan warga berasal dari sungai ini, namun kondisinya yang semakin parah membuat air tidak bisa diolah dengan aman lagi.
Dewan Air Delhi melaporkan bahwa setidaknya 43 kawasan mengalami gangguan pasokan air, memengaruhi dua juta penduduk. Di beberapa lingkungan, air tidak mengalir sama sekali, menambah ketidakpastian bagi warga yang bergantung pada pasokan air yang bersih.
Ironisnya, meskipun otoritas setempat menyatakan bahwa pasokan telah pulih, banyak laporan dari warga yang mengindikasikan bahwa air yang keluar dari keran masih berwarna keruh dan memiliki bau tidak sedap. Hal ini menunjukkan bahwa masalah belum sepenuhnya teratasi.
Sejarah dan Kondisi Sungai Yamuna yang Kontroversial
Sejarah Sungai Yamuna di Delhi sangat panjang dan berkaitan erat dengan perkembangan peradaban di kawasan tersebut sejak abad ke-17. Sekarang, sekitar 76% polusi di sungai ini berasal dari 2% aliran yang melewati ibu kota, menjadikannya sebagai salah satu contoh paling mencolok dari dampak urbanisasi yang tidak terencana.
Kandungan oksigen terlarut di sungai sering kali mencapai nol, yang tidak hanya membunuh kehidupan akuatik tetapi juga mengubah sungai menjadi saluran limbah terbuka. Lapisan busa putih beracun yang menutupi permukaan sungai telah menjadi simbol nyata dari krisis lingkungan yang dihadapi India saat ini.
Aktivis lingkungan telah berusaha keras untuk menangani masalah ini, membersihkan limbah yang mengotori bantaran sungai. Namun, mereka mengakui bahwa tanpa perubahan menyeluruh dalam pengelolaan limbah industri dan infrastruktur kota, upaya tersebut hampir tidak memadai untuk meraih hasil yang berarti.
Pertumbuhan Kota dan Permasalahan Infrastruktur
Pertumbuhan kota yang tidak terencana dan cepat juga menjadi faktor penyebab krisis air bersih ini. Banyak penduduk tinggal di permukiman ilegal yang tidak memiliki sistem pipa dan pembuangan limbah yang memadai, sehingga menghasilkan pencemaran yang lebih parah bagi cadangan air tanah.
Studi terbaru menunjukkan bahwa limbah rumah tangga dan industri telah meresap ke tanah, mencemari cadangan air tanah yang sudah ada. Hal ini semakin memperburuk kondisi lingkungan dan menciptakan situasi darurat bagi warga yang berusaha mencari air bersih.
Pemerintah Delhi telah berkomitmen untuk meningkatkan kapasitas pengolahan limbah dalam beberapa tahun mendatang, dengan rencana untuk membangun jaringan pembuangan di seluruh permukiman ilegal. Namun, bagi banyak warga, janji tersebut terasa seperti angin surga yang jauh dari kenyataan.
Kenyataan Pahit yang Dihadapi Warga Setiap Hari
Kisah Raja Kamat, salah satu warga di Raghubir Nagar, menggambarkan betapa sulitnya kehidupan dalam situasi ini. Kamat mengungkapkan bahwa pasokan air bisa mati selama lima hari penuh, dan ketika air kembali mengalir, kondisi airnya tidak jauh lebih baik dan hanya tersedia untuk waktu yang sangat terbatas.
Warga berusia 70 tahun, Bhagwanti, juga menyuarakan kekecewaannya terhadap situasi yang mereka hadapi, di mana fasilitas sanitasi dan kebersihan terus menerus diabaikan oleh pemerintah. Realita ini menciptakan rasa putus asa di antara orang-orang yang bergantung pada pasokan air untuk kebutuhan dasar.
Selain kebutuhan sehari-hari, krisis ini juga mempengaruhi kesehatan masyarakat secara umum. Banyak yang melaporkan penurunan kesehatan akibat mengonsumsi air yang tercemar, sebuah situasi yang sangat mengecewakan bagi mereka yang tidak memiliki pilihan. Tanpa tindakan nyata dari pihak berwenang, masa depan banyak warga bertanya-tanya dalam bayang-bayang ketidakpastian.








