Kasus kanker usus besar yang awalnya lebih umum dijumpai pada orang dewasa, kini mulai menunjukkan peningkatan signifikan pada kelompok usia yang lebih muda, termasuk generasi Z. Perubahan ini bukan hanya sekadar tren tetapi merupakan indikator penting mengenai pola kesehatan masyarakat yang perlu diwaspadai oleh semua kalangan.
Pada beberapa tahun terakhir, sebuah studi kanker kolorektal menunjukkan adanya hubungan erat antara konsumsi makanan olahan dan angka kejadian kanker usus besar di kalangan orang muda. Hal ini menimbulkan banyak pertanyaan mengenai pola makan dan gaya hidup yang berkembang saat ini.
Meningkatnya kejadian kanker usus besar dan rektum di kalangan orang dewasa muda, khususnya di Amerika Serikat, memperlihatkan adanya tren pemakanan yang tidak sehat. Dengan 70 persen dari total makanan yang tersedia di negara tersebut berbentuk makanan olahan, orang-orang menjadi semakin rentan terhadap penyakit ini.
Pentingnya Menggali Kaitan Antara Makanan dan Kesehatan Usus
Sebuah penelitian yang diterbitkan dalam jurnal JAMA Oncology menekankan bahwa konsumsi makanan olahan dapat meningkatkan risiko adenoma kolorektal, yang merupakan pertumbuhan jaringan awal sebelum berkembang menjadi kanker. Dengan semakin banyaknya kasus terjadi di usia yang lebih muda, temuan ini menjadi sangat penting untuk dipahami.
Dalam penelitian tersebut, makanan olahan yang sering dikonsumsi berupa roti, sereal kemasan, hingga minuman manis. Konsumsi makanan olahan yang tinggi, seperti sekitar 10 porsi per hari, dihubungkan dengan peningkatan risiko 45 persen untuk mengalami pertumbuhan jaringan awal, dibandingkan dengan mereka yang hanya mengonsumsi tiga porsi per hari.
Menurut penulis senior studi tersebut, menemukan keterkaitan ini menjadi penting untuk menjaga kesehatan dan mungkin membantu dalam upaya pencegahan penyakit. Dengan angka yang semakin meningkat, orang perlu lebih memperhatikan apa yang mereka konsumsi sehari-hari.
Pola Makan dan Gaya Hidup yang Perlu Diperhatikan
Makanan olahan sering kali mengandung banyak zat aditif yang dapat berbahaya bagi kesehatan, termasuk pengawet dan bahan tambahan lainnya. Dengan kandungan serat yang rendah dan kalori yang tinggi, makanan jenis ini jelas bukan pilihan yang baik untuk kesehatan jangka panjang.
Pakar kesehatan menekankan pentingnya kembali pada pola makan yang berbasis pada makanan utuh, seperti sayuran, buah-buahan, dan biji-bijian. Selain itu, menghindari makanan olahan adalah langkah yang bijak untuk menjaga kesehatan usus dan mencegah potensi berbagai penyakit.
Namun, satu-satunya cara untuk mengetahui kondisi kesehatan usus adalah melalui skrining yang dianjurkan, terutama bagi mereka yang memiliki riwayat keluarga. Kanker kolon sering kali tidak menunjukkan gejala sampai sudah berada dalam tahap yang lebih serius, sehingga deteksi dini menjadi sangat krusial.
Fenomena Meningkatnya Kasus Kanker Usus di Berbagai Usia
Di Indonesia, tren serupa mulai terlihat di mana kasus kanker usus besar pada usia muda juga meningkat. Direktur Utama RS Kanker Dharmais menyatakan bahwa perubahan dalam profil usia pasien kanker semakin nyata, dengan banyak pasien berusia di bawah 40 tahun.
Di lapangan, penyebab kanker kadang kali kompleks dan tidak dapat ditentukan oleh satu faktor saja. Namun, pola makan yang kaya makanan olahan, kebiasaan merokok, dan gaya hidup sedentari dianggap memegang peranan penting dalam fenomena ini.
Selain itu, generasi muda saat ini cenderung memiliki gaya hidup yang berbeda dari generasi sebelumnya, termasuk kebiasaan kurang tidur dan minum minuman manis berlebihan. Hal-hal ini dapat memperburuk kondisi kesehatan dan mempercepat terjadinya risiko kanker usus besar.








