Para peneliti dari Akademi Ilmu Pengetahuan Tiongkok di Institut Otomasi Beijing baru-baru ini memperkenalkan sistem kecerdasan buatan yang inovatif bernama SpikingBrain 1.0. Sistem AI ini didesain untuk meniru cara kerja otak manusia dengan efisiensi energi yang lebih baik, serta tidak bergantung pada komponen chip dari perusahaan luar negeri.
SpikingBrain 1.0 dikembangkan sebagai model bahasa yang menghadirkan performa unggul dibandingkan dengan model konvensional. Dengan berbagai keunggulannya, sistem ini berpotensi merevolusi cara kita berinteraksi dengan teknologi melalui pendekatan yang lebih efisien dan hemat energi.
Dari hasil penelitian, tim peneliti melaporkan bahwa sistem ini mampu menyelesaikan tugas-tugas tertentu hingga seratus kali lebih cepat daripada model lain, dengan data pelatihan yang jauh lebih sedikit. Keunggulan ini menunjukkan potensi besar bagi pengembangan teknologi kecerdasan buatan di masa depan.
Pengenalan Sistem SpikingBrain 1.0 dan Kelebihannya
SpikingBrain 1.0 mengadopsi pendekatan komputasi neuromorfik yang terinspirasi oleh mekanisme otak manusia. Dengan sistem ini, efisiensi operasional dapat dicapai hanya menggunakan daya sekitar 20 watt, jauh lebih rendah dibandingkan dengan model AI tradisional.
Menurut para peneliti, sistem ini tidak mengaktifkan seluruh jaringan untuk memproses informasi. Sebaliknya, neuron dalam SpikingBrain 1.0 hanya mengirimkan sinyal saat diperlukan, sehingga membantu mengurangi konsumsi energi secara signifikan.
Teknologi inti yang digunakan dalam sistem ini dikenal sebagai ‘spiking computation’. Metode ini memungkinkan neuron untuk beroperasi dengan cara yang mirip dengan neuron biologis, sehingga membedakan SpikingBrain 1.0 dari model-model lainnya yang ada.
Kecepatan dan Efisiensi dalam Pengolahan Data
Salah satu pencapaian terpenting dari sistem ini adalah kemampuannya untuk menangani data besar dengan lebih cepat. Dalam satu pengujian, model yang lebih kecil dari SpikingBrain 1.0 dapat merespons perintah dengan kompleksitas tinggi lebih dari seratus kali lebih cepat dibandingkan model standar.
Selain itu, pada pengujian lain, varian sistem ini menunjukkan kecepatan yang 26,5 kali lebih cepat dibandingkan arsitektur konvensional saat menghasilkan output awal dari konteks data yang besar. Kecepatan ini menjadikannya pilihan yang menarik untuk berbagai aplikasi yang membutuhkan pemrosesan data cepat.
Tim peneliti juga menguji dua versi model yang memiliki parameter berbeda, yakni yang kecil dengan 7 miliar parameter dan yang besar dengan 76 miliar parameter. Keduanya dilatih dengan total yang lebih sedikit dari 150 miliar token data, namun tetap menghasilkan hasil yang mengesankan.
Aplikasi Potensial dalam Berbagai Bidang
SpikingBrain 1.0 memiliki banyak aplikasi potensial di berbagai bidang, termasuk analisis dokumen hukum dan medis, penelitian fisika energi tinggi, dan pengurutan DNA. Semua aplikasi ini memerlukan pemahaman yang dalam terhadap kumpulan data besar yang sangat kompleks.
Dengan teknologi ini, para profesional di bidang hukum, medis, dan penelitian bisa memanfaatkan kemampuan pemrosesan cepat untuk mempercepat proses dan pengambilan keputusan. Hal ini tentu saja akan membawa dampak positif dalam operasional sehari-hari mereka.
Menggunakan SpikingBrain 1.0 dalam penelitian juga dapat membuka jalan bagi terobosan baru dalam pemahaman ilmiah di bidang-bidang tersebut, yang sebelumnya menjadi tantangan karena keterbatasan teknologi yang ada.











