Muhammad Fakih Santoso, seorang komedian berusia 68 tahun, kini menjalani kehidupan yang jauh berbeda dari masa kejayaannya. Setelah lama menjadi bagian dari Srimulat, ia kini beralih profesi menjadi badut demi memenuhi kebutuhan sehari-hari hidupnya.
Pada masa aktifnya bersama Srimulat, Fakih mungkin tidak sepopuler beberapa rekannya, seperti Kabul Basuki atau Nunung. Dari tahun 1984 hingga 1986, ia dikenal di panggung dengan nama Parlindungan Margasatwa, yang menggambarkan bakat dan keunikan yang dimilikinya.
Saat ini, Fakih menghabiskan waktunya di Kebun Raya Bali, Tabanan, untuk menghibur anak-anak sebagai seorang badut. Pekerjaan ini memberinya kesempatan untuk tetap berinteraksi dengan banyak orang dan memberikan tawa kepada mereka.
Fakih bersyukur dengan rezeki yang ia terima dan menganggap setiap pengalaman sebagai berkah dari Tuhan. Ia menyadari bahwa jalannya mungkin berbeda dari yang diharapkannya, tetapi ia tetap menjalankan profesinya dengan penuh rasa syukur.
Perjalanan Hidup dan Krisis yang Dihadapi
Menjadi badut memang bukanlah pilihan yang mudah, namun Fakih berusaha menjalani dengan segenap hati. Selama 15 tahun terakhir, ia lebih lama menggeluti profesi ini dibandingkan saat bersama Srimulat.
Setiap hari, ia tampil untuk menghibur, memberikan kebahagiaan kepada anak-anak sambil mengenakan kostum badutnya yang ceria. Dalam menjalani profesi barunya, ia mendapatkan tarif antara Rp500 ribu hingga Rp700 ribu per jam.
Dengan menyandang nama panggung Mr. Brekele, Fakih berharap bisa meninggalkan kenangan manis bagi anak-anak yang menontonnya. Pekerjaan ini membuatnya merasa hidup dan mendapatkan banyak kembali dari tawa yang ia ciptakan.
Fakih sudah menetap di Bali selama 34 tahun dan merasa terhubung dengan masyarakat di sekitar. Meskipun ia telah meninggalkan dunia Srimulat, ia masih menerima panggilan dari mereka yang membutuhkan kehadirannya dalam acara-acara besar.
Transformasi Karier ke Dunia Pertunjukan
Sebelum menjadi badut, Fakih memiliki latar belakang yang beragam. Ia pernah bekerja sebagai penjahit, sebuah profesi yang mungkin terpaksa dijalaninya setelah mengalami kecelakaan yang mengakibatkan kakinya patah.
Pengalaman tersebut memperluas pandangannya tentang kehidupan dan mendorongnya untuk beralih ke dunia hiburan. Berkat ketekunannya dalam beradaptasi, ia berhasil menemukan jati diri di arena panggung komedi dan sulap.
Selama masa transisi ini, Fakih tak hanya berfokus pada hiburan, tetapi juga mengembangkan kemampuan dalam berbicara di depan publik. Ia mengisi acara-acara seperti pernikahan dengan menjadi MC, yang membantu memberikannya lebih banyak pengalaman.
Walaupun perjalanannya penuh tantangan, Fakih merasa bahwa setiap langkah yang ia ambil membawanya menuju arah yang lebih baik. Keputusan untuk mengejar karier di dunia komedi dan pertunjukan membawa kepuasan tersendiri baginya.
Menjaga Semangat dan Harapan di Usia Tua
Di tengah semua perubahan ini, satu hal yang tetap menjadi semangat Fakih adalah harapan dan determinasi. Setiap kali ia mengenakan kostum badutnya, rasa percaya diri dan keinginan untuk menghibur tumbuh semakin besar.
Tindakannya yang konsisten dalam memberikan keceriaan bagi anak-anak di Kebun Raya Bali menjadi bukti nyata bahwa usia bukanlah penghalang dalam berkarya. Dengan penuh dedikasi, ia berbagi cerita dan tawa yang membuat banyak orang merasa lebih baik.
Fakih menyadari bahwa dalam hidup, tidak selalu harus mengikuti rute yang dianggap “benar.” Terkadang, jalan yang berbeda bisa membawanya menuju pengalaman yang lebih berharga. Ia ingin menjadi inspirasi bagi mereka yang menghadapi kesulitan serupa.
Dengan semangat yang tidak pernah padam, ia berharap bisa terus berkarya dan memberikan dampak positif bagi sekitarnya. Misinya adalah membuat orang lain tersenyum, dan ia bertekad untuk melakukannya sebaik mungkin.







