Bumi memiliki sejumlah daerah dengan suhu ekstrem, tetapi jika kita berbicara mengenai kota terdingin di dunia pada tahun 2025, jawabannya tampaknya mengejutkan. Tidak seperti yang banyak dikira, kota terdingin ini bukanlah di Kutub Utara atau Antartika, melainkan terletak di Rusia.
Kota yang dimaksud adalah Yakutsk, yang terkenal karena suhu ekstremnya dan mencatatkan diri sebagai kota terdingin dengan populasi besar. Rekor suhu terendah yang tercatat di Yakutsk terjadi pada 5 Februari 1891, di mana suhu mencapai hingga -64,4°C.
Pada Januari 2025, suhu rata-rata terendah di kota ini diperkirakan berada di kisaran -42°C, dengan hanya sedikit paparan sinar matahari, yaitu kurang dari empat jam dalam sehari. Keadaan ini menjadikan kehidupan di Yakutsk sangat menantang, terutama selama musim dingin yang panjang dan keras.
Fenomena Suhu Ekstrem yang Mencolok di Yakutsk
Yang menarik, meskipun suhu ekstrem di Yakutsk selama musim dingin, keadaan di kota ini bisa terasa sebaliknya pada musim panas. Selama bulan Juli, rata-rata suhu tertinggi dapat mencapai 26°C, menciptakan perbandingan yang jomplang dengan kondisi musim dingin.
Kontras suhu yang ekstrem ini menjadi ciri khas Yakutsk, di mana suhu dapat turun hingga -35 sampai -42 derajat Celsius saat musim dingin, sementara musim panas dapat melonjak di atas 20 derajat Celsius. Ini memberikan gambaran yang unik mengenai iklim di kota ini.
Dari sekitar 355.000 penduduk yang menghuni Yakutsk, kehidupan sehari-hari mereka sangat dipengaruhi oleh iklim yang ekstrem ini. Penduduk kota ini harus beradaptasi dengan suhu yang bisa turun drastis, membuat mereka menjadi masyarakat yang resilien.
Penyebab Utama Suhu Dingin di Yakutsk dan Lingkungannya
Kota Yakutsk tidak terletak di lokasi paling utara, namun memiliki suhu terdingin di antara kota-kota besar dunia. Salah satu alasan utama di balik suhu rendah ini adalah letaknya yang jauh di dalam daratan, sekitar 725 kilometer dari Laut Okhotsk, yang mengurangi efek moderasi suhu dari lautan.
Pada musim dingin, Siberia juga mengalami fenomena tekanan tinggi yang dikenal sebagai Siberian High. Tekanan ini membawa massa udara dingin dari Arktik, sehingga memperpanjang periode dingin secara signifikan.
Selama musim dingin, Yakutsk juga hanya mendapatkan kurang dari empat jam paparan sinar matahari setiap harinya. Hal ini semakin memperparah kondisi suhu yang ekstrem di wilayah ini, menjadikannya sangat menantang bagi penduduk untuk beraktivitas sehari-hari.
Permafrost dan Implikasinya pada Kehidupan Sehari-hari di Yakutsk
Satu hal menarik lainnya adalah fakta bahwa Yakutsk dibangun di atas permafrost permanen, yaitu tanah yang tetap membeku sepanjang tahun. Keberadaan permafrost ini menambah intensitas suhu yang ekstrem dan memperkuat ketidaknyamanan lingkungan yang dialami oleh penduduk.
Ekonomi Yakutsk banyak bergantung pada industri tidak lain adalah perusahaan Alrosa, yang mengelola salah satu tambang berlian terbesar di dunia. Aktivitas pertambangan ini menjadi tulang punggung ekonomi kota dan memberikan kehidupan bagi banyak penduduk di daerah tersebut.
Walau Yakutsk diakui sebagai kota terdingin, rekor untuk tempat terdingin yang berpopulasi adalah desa kecil bernama Oymyakon. Desa ini terletak tidak jauh dari Yakutsk dan pernah mencatat suhu terendah sepanjang sejarah yaitu -71,2°C, menjadi simbol ketahanan iklim yang ekstrem di Rusia.
Dalam kondisi dingin yang ekstrem, kendaraan yang diparkir di luar rumah sering kali harus terus dihidupkan. Jika mesin dimatikan, mesin bisa membeku dan kendaraan tersebut tidak dapat digunakan sampai suhu kembali stabil.








