Peta kekuatan paspor global memasuki fase yang signifikan pada tahun 2026. Laporan terbaru menunjukkan adanya kesenjangan yang memperlebar antara negara-negara dengan tingkat mobilitas tinggi dan rendah di seluruh dunia, hal ini menunjukkan bagaimana paspor semakin menjadi penentu akses terhadap peluang ekonomi dan keamanan.
Pada peringkat teratas, sebuah negara di Asia Tenggara terus menduduki posisi sebagai pemegang paspor terkuat global, menawarkan akses bebas visa ke 192 tujuan. Di sisi lain, sebuah negara di Asia tengah mengalami keterbatasan, di mana warganya hanya memiliki akses ke 24 negara tanpa perlu visa, menciptakan kesenjangan signifikan dalam hal mobilitas global.
“Selama dua dekade terakhir, pertumbuhan mobilitas global sangat pesat, tetapi distribusinya sangat tidak merata,” ungkap seorang pakar terkemuka yang menjadi sumber dari laporan tersebut. Kesenjangan ini semakin mendalam seiring dengan perubahan regulasi dan kebijakan di berbagai negara.
Pergeseran dalam Kekuatan Paspor dan Kebijakan Perbatasan Global
Dalam konteks ini, pemanggilan untuk memperketat kontrol perbatasan menjadi semakin nyata. Seiring negara-negara melakukan upaya lebih keras untuk menjaga keamanan, paspor saja tidak lagi cukup untuk melintasi batas negara.
Paspor dari negara terkuat memberikan akses luas, dengan negara di urutan kedua menawarkan kebebasan akses ke 188 tujuan. Selain itu, negara-negara Eropa juga menunjukkan kekuatan paspor yang signifikan, menciptakan persaingan baru dalam hal mobilitas global.
Konsep keterbukaan sebagai instrumen pengaruh juga menjadi sorotan penting. Negara-negara yang berada di posisi strategis berusaha untuk mengembangkan kebijakan yang tidak hanya memperbolehkan akses, tetapi juga meningkatkan citra mereka di mata dunia.
Perbandingan Antara Keterbukaan Beijing dan Pembatasan di AS
Kebijakan perbatasan yang ketat di sebuah negara besar tampaknya kontras dengan kebijakan terbuka yang diadopsi oleh negara lain. Dalam dua tahun terakhir, negara di Asia telah mengambil langkah besar untuk membuka akses bebas visa, memberikan peluang bagi warga dari berbagai negara untuk mengunjungi tanpa keharusan menggunakan visa.
Di sisi lain, negara besar lainnya menerapkan kebijakan yang lebih terperinci. Ini termasuk pengumpulan data pribadi yang lebih mendalam bagi warga negara sekutu yang ingin mengunjungi, menciptakan tantangan baru dalam mobilitas global.
Pakar terkait mengungkapkan bahwa kebijakan ini tidak hanya membatasi akses, tetapi juga berpotensi menyaring ideologi yang tidak diinginkan, menciptakan masalah baru dalam konteks hak privasi.
Dampak Global dari Penurunan Akses Bebas Visa
Pergeseran yang terjadi dalam akses bebas visa di negara-negara besar seperti AS dan Inggris perlu dicermati dengan serius. Penurunan dalam hal jumlah tujuan bebas visa menunjukkan adanya pergeseran yang lebih mendalam dalam stabilitas geopolitik dan hubungan internasional.
Penurunan dua negara ini dalam akses bebas visa mencerminkan perubahan persepsi global terhadap keamanan dan mobilitas, menciptakan tantangan baru bagi warga negara yang ingin bepergian. Hal ini menjadi sinyal bagi perubahan strategi diplomasi dan kebijakan luar negeri yang lebih luas.
Analisis lebih lanjut menunjukkan bahwa pergerakan ini bukan hanya masalah teknis, tetapi juga mencerminkan ketidakpastian dan kekhawatiran yang berkembang tentang isu-isu global yang lebih luas. Dalam konteks ini, peningkatan kecemasan di berbagai belahan dunia mungkin turut memengaruhi keputusan kebijakan di negara-negara lain.









