Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Arif Satria, menegaskan pentingnya percepatan riset dan pengembangan pesawat amfibi, yang dikenal sebagai seaplane. Hal ini disampaikan dalam konteks kolaborasi antara BRIN dan PT Dirgantara Indonesia (PTDI) dalam upaya menghasilkan inovasi transportasi yang dapat meningkatkan konektivitas antar pulau di Indonesia.
Dengan Indonesia yang merupakan negara kepulauan dengan lebih dari 17.000 pulau, pengembangan pesawat amfibi akan sangat bermanfaat. Menurut Arif, pesawat ini diharapkan dapat berfungsi secara efektif untuk menembus wilayah-wilayah terpencil yang sulit dijangkau oleh moda transportasi lainnya.
Arif menyatakan optimis bahwa pengembangan pesawat N219, yang merupakan hasil kerjasama ini, dapat diselesaikan pada akhir 2026 atau awal 2027. Proyek ini tidak hanya bertujuan untuk memenuhi kebutuhan domestik, tetapi juga untuk mendukung potensi ekspor teknologi penerbangan Indonesia.
Inovasi seperti pesawat amfibi ini sangat penting untuk kementerian dan lembaga yang ingin meningkatkan daya saing Indonesia di tingkat global. Pasalnya, teknologi tersebut tidak hanya akan memberikan dampak ekonomis, tetapi juga meningkatkan mobilitas sumber daya manusia dan barang di seluruh wilayah Indonesia.
Pentingnya Inovasi Pesawat Amfibi bagi Indonesia
Pesawat amfibi diharapkan mampu menjawab tantangan logistik di Indonesia. Dengan geografi yang beragam dan banyak pulau, akses transportasi menjadi isu utama yang perlu diatasi. Penggunaan seaplane dapat memfasilitasi perjalanan antar pulau dengan lebih efisien dan cepat.
saat ini, 一 “Apabila kita dapat menyediakan moda transportasi yang lebih baik, maka dampaknya terhadap ekonomi lokal juga akan sangat signifikan,” tambah Arif. Hal ini berarti bahwa investasi dalam teknologi penerbangan bisa menjadi katalisator bagi pertumbuhan ekonomi di daerah-daerah terpencil.
Pada tahun 2024, Badan Informasi Geospasial mencatat jumlah pulau di Indonesia mencapai 17.380. Setiap pulau memiliki kebutuhan transportasi yang unik; sehingga pesawat amfibi dapat menjadi solusi yang memenuhi berbagai kebutuhan tersebut. Riset yang dilakukan BRIN dan PTDI diharapkan dapat menciptakan produk yang sesuai dengan tuntutan pasar dan kebutuhan masyarakat.
Arif menambahkan bahwa BRIN juga bekerja sama dalam proyek pesawat N219 untuk meningkatkan jumlah produksi sesuai permintaan pemerintah. Hal ini menunjukkan bahwa ada peluang pasar yang luas bagi inovasi dalam sektor penerbangan, khususnya pesawat yang mampu mendarat di air.
Dengan berbagai komponen yang saling berkaitan antara riset dan industri, potensi pesawat amfibi ini bisa memberikan dampak yang jauh lebih besar dibandingkan dengan teknologi penerbangan konvensional. Ini adalah langkah strategis ke depan bagi pembangunan industri penerbangan di tanah air.
Kerjasama Riset dan Inovasi Strategis
Sementara itu, kerjasama BRIN dengan PTDI bukan satu-satunya yang dijajaki. Arif juga menyebutkan rencana untuk memperkuat kolaborasi riset di bidang pertahanan dengan PT Pindad. Hal ini menunjukkan komitmen pemerintah untuk memajukan teknologi dan inovasi di berbagai sektor, tidak hanya penerbangan.
Dalam perkembangan ini, Arif menyatakan pentingnya pengembangan kendaraan taktis Maung yang memerlukan riset dan pengembangan lebih lanjut. “Kami akan memastikan bahwa kendaraan tersebut ditingkatkan dalam hal teknologi dan performa untuk memenuhi tuntutan operasional di lapangan,” ungkapnya.
Peningkatan kualitas produk pertahanan animasi kesehatan juga memerlukan kerja sama yang solid antara institusi pemerintah dan pihak swasta. Sinergi ini diharapkan bisa mendukung pengembangan alutsista yang lebih efektif dan efisien. Jika berhasil, Indonesia akan memiliki industri pertahanan yang lebih mandiri dan berdaya saing tinggi.
Arif pun menegaskan bahwa ekosistem riset nasional perlu berjalan secara terpadu dan terukur. Kolaborasi yang erat antara institusi riset, pemerintah, dan industri akan sangat menentukan keberhasilan pengembangan inovasi yang strategis. Selain di sektor penerbangan, ini juga berlaku untuk sektor-sektor lainnya.
Pengalaman dalam meriset dan menghasilkan produk berkualitas tinggi harus menjadi prioritas bagi BRIN dan mitra-mitranya. Dengan begitu, Brasilan yang dihasilkan bukan hanya memadai di pasar domestik, tetapi juga dapat bersaing di pasar internasional.
Mendorong Ekosistem Riset dan Inovasi Nasional
Arif Satria menekankan bahwa perluasan jaringan kerja sama akan memberikan nilai tambah bagi seluruh stakeholder. Untuk itu, BRIN fokus pada pengembangan inovasi yang dapat membantu memajukan industri strategis di Indonesia. Ini meliputi berbagai bidang, mulai dari teknologi pangan hingga teknologi informasi.
Bersama lembaga pemerintah seperti Kementerian Riset dan Teknologi, BRIN berupaya memastikan bahwa respons terhadap kebutuhan industri terjamin. Riset yang dilakukan harus relevan dan aplikasi dalam kehidupan sehari-hari sangat penting untuk kemajuan masyarakat.
Dengan adanya dukungan dari berbagai pihak, diharapkan riset dan inovasi dapat berkembang lebih cepat. Ini menjadi tantangan tersendiri bagi institusi riset agar mampu menghadapi perubahan teknologi yang semakin cepat.
Indonesia, dengan kekayaan sumber daya dan tantangan yang ada, memiliki peluang besar untuk menjadi negara yang tidak hanya konsumtif tetapi juga inovatif. Melalui riset dan pengembangan yang tidak henti, diharapkan Indonesia dapat bersaing dengan negara lain di kancah global.
Dengan dukungan pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat, upaya untuk mempercepat inovasi melalui riset diharapkan dapat menciptakan lebih banyak lapangan kerja serta meningkatkan kualitas hidup masyarakat.










