Beberapa waktu lalu, dunia maya dihebohkan oleh aksi saling sindir antara CEO perusahaan kendaraan listrik dan CEO maskapai penerbangan ternama. Pertikaian ini dimulai dari isu fitur Wi-Fi di pesawat dan berkembang menjadi saling menyerang di media sosial, dengan komentar lucu hingga mengejek satu sama lain.
Perdebatan ini mencuat ketika salah satu CEO secara terbuka menolak tawaran pemasangan teknologi internet satelit milik CEO lainnya di armada pesawatnya. Dalam cuitan yang viral, ia mengecam konsep tersebut dan menyebut sang CEO sebagai “idiot” yang tidak paham dunia penerbangan.
Penolakan ini memicu tanggapan tajam dari CEO lainnya, yang tidak segan-segan membalas dengan sindiran tajam. Ketegangan di antara kedua individu yang terkenal ini mencerminkan perbedaan visi dan pendekatan mereka dalam menjalankan perusahaan masing-masing.
Pertikaian Awal Mengenai Teknologi Wi-Fi di Pesawat
Pembicaraan mengenai pemasangan Wi-Fi ini berawal dari CEO maskapai penerbangan yang merasa teknologi tersebut tidak sesuai dengan kebutuhan operasional perusahaannya. Ia bahkan memperkirakan biaya yang diperlukan bisa mencapai ratusan juta euro, yang dianggapnya tidak layak. Selain itu, ia menekankan bahwa penumpang tidak bersedia membayar untuk fitur ini.
Dalam sebuah wawancara, CEO tersebut menjelaskan bahwa biaya tambahan tersebut akan berdampak signifikan pada tarif tiket, sehingga ia memilih untuk tidak melanjutkan pembicaraan mengenai pemasangan teknologi tersebut. Ia mengklaim bahwa penumpang lebih memilih untuk terbang dengan harga yang lebih terjangkau tanpa tambahan biaya layanan yang tidak efektif.
Di sisi lain, CEO perusahaan kendaraaan listrik menyangsikan keputusan tersebut dan berargumen bahwa teknologi Wi-Fi bisa memberikan pengalaman terbang yang lebih baik bagi penumpang. Menurutnya, hal ini penting untuk tetap bersaing dalam industri penerbangan yang semakin ketat.
Respon dan Reaksi di Media Sosial
Setelah pernyataan tersebut beredar luas, CEO perusahaan kendaraan listrik segera merespons secara langsung di platform media sosial. Ia menyebut pesaingnya sebagai “bodoh total” dan mendorong agar CEO tersebut dihapus dari jabatannya. Sikap ini memicu berbagai reaksi di kalangan netizen yang menyaksikan perdebatan ini berlangsung.
Tak lama setelah itu, warganet mulai memberikan berbagai saran, termasuk ide agar CEO kendaraan listrik membeli maskapai penerbangan tersebut untuk memecat sang CEO. Komentar ini justru menjadi bahan candaan bagi CEO yang bersangkutan, yang terlihat tidak menganggap hal ini dengan serius.
Gambaran situasi semakin menarik ketika CEO kendaraan listrik mengajukan pertanyaan kepada para pengikutnya apakah ia seharusnya membeli maskapai penerbangan tersebut, disertai dengan sindiran mengenai mencari CEO baru dengan nama yang lebih sesuai. Ini menunjukkan betapa absurditas situasi ini menjadi perbincangan hangat di kalangan publik.
Pencairan Ketegangan Melalui Polling dan Sindiran Tambahan
Dalam keadaan penuh ketegangan tersebut, CEO kendaraan listrik membuat polling di media sosial untuk menguji pendapat warganet apakah ia harus melanjutkan ide pembelian maskapai tersebut. Anehnya, mayoritas responden menunjukkan dukungan terhadap gagasan yang dinilai gila ini, memberi sinyal bahwa ketertarikan publik terhadap drama ini sangat tinggi.
Sementara itu, akun resmi maskapai penerbangan tersebut juga tidak mau kalah dalam berkomentar. Mereka membalas sindiran dengan menyebutkan permasalahan teknis di platform media sosial yang digunakan, yang semakin memperpanas suasana. Ini menunjukkan bagaimana masing-masing pihak berusaha memanfaatkan momen ini untuk meningkatkan kehadiran mereka di platform digital.
Sindiran demi sindiran berlanjut, dengan CEO kendaraan listrik menciptakan atmosfer persaingan yang lebih dramatis. Ini menegaskan bahwa perdebatan ini bukan sekadar soal teknologi, tetapi juga tentang reputasi dan citra masing-masing perusahaan yang mereka pimpin.







