James Cameron, sutradara terkenal dengan karya-karya legendaris, baru-baru ini menjelaskan mengapa ia memilih untuk pindah dari Amerika Serikat ke Selandia Baru. Baginya, faktor kondisi sosial dan masyarakat tempat tinggal menjadi motivasi utama keputusan tersebut.
Di usia 71 tahun, Cameron resmi menjadi warga negara Selandia Baru pada Agustus 2025. Dalam sebuah wawancara mendalam, ia mengungkapkan perasaannya tentang kehidupan di negara yang dikenal penuh keindahan ini.
Cameron pertama kali mengunjungi Selandia Baru pada 1994 dan merasakan ketertarikan yang mendalam. Namun, keputusan untuk pindah secara permanen diambilnya pada 2011 setelah membeli lahan pertanian di sana.
Pindah ke Selandia Baru bukanlah keputusan yang diambilnya dengan gegabah. Setelah menikahi Suzy Amis pada 2000, mereka mulai membicarakan kemungkinan menetap di negara tersebut setelah kesuksesan film Avatar, yang dirilis pada 2009.
Meski sempat bolak-balik antara Selandia Baru dan Amerika Serikat hingga awal pandemi Covid-19, pada Agustus 2022, Cameron dan keluarganya akhirnya memutuskan untuk tinggal sepenuhnya di Selandia Baru. Dia menyatakan terpesona oleh cara negara tersebut menangani pandemi.
Alasan Hidup di Selandia Baru dan Persepsi Masyarakat
Cameron menyebut Selandia Baru sebagai tempat yang ideal, terutama dalam konteks penanganan Covid-19. Negara ini berhasil menekan penyebaran virus dengan sangat efektif.
Menurut Cameron, Selandia Baru berhasil memberantas virus hingga dua kali, dan meski muncul mutasi baru, mereka tetap memiliki tingkat vaksinasi yang tinggi mencapai 98 persen. Ini jauh berbeda dengan situasi di Amerika Serikat yang memiliki tingkat vaksinasi hanya 62 persen.
Ketika ditanya mengenai pilihan tempat tinggal, Cameron menegaskan pentingnya hidup di tempat yang mengutamakan sains dan kerjasama. Ia sangat merindukan suasana di Selandia Baru, di mana masyarakatnya lebih kompak dan berorientasi pada tujuan bersama.
Dia berpendapat bahwa masyarakat di Amerika Serikat lebih terpolarisasi dan saling bermusuhan, yang berpotensi menciptakan kekacauan jika menghadapi krisis lebih lanjut. Ini adalah salah satu alasan penyesalan yang Cameron rasakan terhadap kehidupan di Amerika.
Bersama Suzy Amis, Cameron kini memiliki tiga putri yang saling melengkapi kehidupan mereka. Keluarga ini menikmati keindahan dan ketenangan yang ditawarkan Selandia Baru, jauh dari ketegangan yang kerap mengganggu di negara asal mereka.
Keluarga dan Kehidupan Pribadi James Cameron
Cameron memiliki sejarah kehidupan pribadi yang cukup berwarna. Ia memiliki anak dari beberapa pernikahan yang berbeda, termasuk putri bernama Josephine dari istri keduanya.
Cameron menikah pertama kali dengan Sharon A. Williams pada 1978, lalu dengan Gale Anne Hurd dan Kathryn Bigelow, sebelum akhirnya menjalin hidup dengan Linda Hamilton. Setiap pernikahan memberikan pengalaman yang berbeda bagi Cameron dan membentuk pandangannya terhadap kehidupan.
Kini, setelah mempersembahkan banyak karya sinematik yang megah, Cameron merasakan kedamaian yang didapat dari kehidupan yang lebih stabil dan harmonis di Selandia Baru. Dia juga merasa bahwa tempat tinggal yang lebih tenang ini membantu dirinya untuk terus berkarya dengan lebih baik.
Memiliki anak-anak yang sedang beranjak dewasa, Cameron juga merasakan tanggung jawab yang lebih besar dalam memberikan contoh yang baik dan membimbing mereka menjalani kehidupan. Harapannya, putri-putrinya dapat memahami nilai-nilai yang dipegangnya.
Pengalaman hidup di berbagai belahan dunia tentu memberi Cameron perspektif yang unik. Ia menggunakan segala pengalamannya dalam karya-karya sinematiknya, menciptakan film yang selalu mampu menginspirasi banyak orang.
Prospek Kreatif dan Sinematografi di Selandia Baru
Selandia Baru bukan hanya dikenal sebagai tempat tinggal Cameron, tetapi juga sebagai lokasi yang kaya akan potensi sinematografi. Alam yang menakjubkan dan keragaman lanskap menawarkan kesempatan yang luar biasa untuk pembuatan film.
Secara kreatif, Cameron merasa Selandia Baru memberikan banyak inspirasi untuk proyek-proyek mendatangnya. Lingkungan yang alami dan masyarakat yang mendukung menciptakan suasana ideal bagi pengembangan ide-ide baru.
Dengan pengalaman sebagai sutradara, Cameron menyadari betapa pentingnya memilih lokasi yang tepat. Pilihan untuk tinggal di Selandia Baru adalah upaya untuk menemukan kembali inspirasi dalam karyanya, dengan harapan bisa menghadirkan film-film yang tak hanya menghibur tetapi juga mengajak penonton berpikir.
Selain itu, Cameron juga berkomitmen untuk lebih aktif dalam industri film lokal. Dengan kehadirannya, ia berharap bisa membuka peluang bagi pembuat film baru di Selandia Baru untuk berkarya di kancah internasional.
Keterlibatannya di dunia film Selandia Baru bisa jadi akan semakin menegaskan posisinya sebagai salah satu sosok terpenting dalam industri film global, terutama di era modern yang terus berubah.








