James Cameron, sutradara legendaris di balik film-film blockbuster, mengungkap alasan mengapa ia memilih untuk meninggalkan Amerika Serikat dan menetap di Selandia Baru. Keputusannya ini dipengaruhi oleh pengamatan mendalam terhadap kondisi masyarakat serta tanggung jawab sosial yang ia rasakan terhadap keluarganya.
Dalam penjelasannya, Cameron berbagi pengalaman dan perjalanan emosionalnya menuju keputusan penting ini. Dengan latar belakang karier yang cemerlang, ia bukan hanya seorang penguasa box office, tetapi juga seseorang yang berpikir kritis tentang dunia di sekitarnya.
Kisah Awal Ketertarikan James Cameron terhadap Selandia Baru
Rasa cinta Cameron pada Selandia Baru dimulai sejak kunjungannya yang pertama pada tahun 1994. Keindahan alam dan keunikan budaya negara tersebut membuatnya terpesona, tetapi keputusannya untuk pindah tidak datang dengan mudah.
Setelah bertahun-tahun berkeluarga dan menikmati kehidupan di Amerika, ia mulai melihat potensi yang lebih besar di Selandia Baru, terutama setelah membeli lahan pertanian pada tahun 2011. Proses ini menjadi titik balik yang mengubah arah hidupnya dan keluarganya.
Selama lebih dari satu dekade, Cameron dan istrinya, Suzy Amis, terus berusaha untuk mencari keseimbangan antara kehidupan karier dan keluarga. Diskusi tentang pindah ke Selandia Baru menjadi semakin serius setelah kelahiran anak-anak mereka.
Melalui berbagai penyesuaian, Cameron merasa bahwa langkah ke arah yang lebih baik telah diambil. Ia dan keluarganya belajar untuk menyesuaikan diri dengan budaya baru sambil tetap menjaga akar mereka.
Tuntutan hidup di Hollywood yang sangat kompetitif, ditambah dengan keinginan untuk memberikan anak-anaknya lingkungan yang berbeda, menjadi faktor pendorong lainnya dalam keputusan tersebut.
Manfaat Menetap di Selandia Baru Selama Pandemi
Di tengah pandemi Covid-19, Cameron merasakan perbedaan yang signifikan antara Selandia Baru dan Amerika Serikat. Ketika banyak negara berjuang dengan lonjakan kasus, Selandia Baru berhasil menekan angka penyebaran dengan kebijakan yang efektif.
Cameron mengapresiasi bagaimana negara tersebut mampu memberantas virus untuk kedua kalinya. Tingkat vaksinasi yang tinggi menjadi salah satu kunci keberhasilan yang patut dicontoh.
Dalam pandangannya, masyarakat Selandia Baru menunjukkan sikap yang lebih rasional dalam menghadapi situasi darurat, sesuatu yang ditantang oleh fakta-fakta yang ada di tempat asalnya. Ia berbicara tentang pentingnya kepercayaan terhadap sains dan kolaborasi dalam mengatasi masalah bersama.
Dengan situasi ini, Cameron merasa lebih tenang dan nyaman untuk membesarkan anak-anaknya. Suasana yang lebih aman dan stabil menjadi prioritas utama bagi keluarganya, terutama selama masa-masa sulit.
Keputusan untuk pindah sepenuhnya ke Selandia Baru pada Agustus 2022 menandai babak baru dalam kehidupan keluarganya, di mana ia berharap dapat menemukan kebahagiaan dan kedamaian yang lebih besar.
Refleksi James Cameron terhadap Kehidupan dan Keluarganya
Dengan tiga putri dari Suzy Amis dan satu putri dari pernikahan sebelumnya, Cameron menyadari betapa pentingnya memiliki lingkungan yang mendukung untuk perkembangan anak-anaknya. Ia sering berbicara tentang pentingnya pendidikan dan pengalaman yang positif.
Cameron bukan hanya seorang sutradara yang sibuk, tetapi juga suami dan ayah yang berkomitmen. Ia ingin memberikan contoh yang baik bagi anak-anaknya dalam hal nilai sosial dan tanggung jawab terhadap lingkungan.
Ia merasa bahwa keputusan untuk pindah memiliki dampak jangka panjang terhadap kehidupan keluarganya. Dengan suasana yang lebih ramah dan kolaboratif di Selandia Baru, Cameron berharap anak-anaknya dapat berkembang dengan baik dan menjadi warga dunia yang bertanggung jawab.
Meskipun memutuskan untuk menjauh dari dunia perfilman di Amerika, ia tetap terlibat dalam industri dengan proyek-proyek yang berfokus pada lingkungan dan teknologi. Ini menunjukkan bahwa dedikasinya tidak terbatas pada film semata.
Secara keseluruhan, perjalanan Cameron adalah perjalanan menuju penemuan diri dan pencarian makna yang lebih dalam dalam hidup. Ia ingin memberi anak-anaknya lebih dari sekadar warisan materi, tetapi juga nilai dan pengalaman yang berharga.








