Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) baru-baru ini memaparkan bahwa beberapa wilayah di Indonesia akan menghadapi potensi cuaca ekstrem dalam sepekan mendatang. Wilayah tersebut mencakup berbagai daerah, seperti Sumatra, Jawa, Bali, hingga Nusa Tenggara.
BMKG mengungkapkan bahwa dinamika atmosfer yang terjadi di skala global dan lokal masih akan mempengaruhi kondisi cuaca di Tanah Air. Fenomena ini berpotensi menyebabkan curah hujan yang tinggi serta angin kencang di beberapa wilayah.
Selama sepekan ke depan, BMKG juga mengindikasikan bahwa ada pembentukan tekanan rendah di beberapa lokasi. Ini dapat menyebabkan adanya perlambatan angin di bagian selatan wilayah Indonesia, memperburuk kondisi cuaca di area tersebut.
Dalam keterangan resminya, BMKG menyatakan bahwa warga di berbagai daerah perlu meningkatkan kewaspadaan. Mengingat potensi cuaca ekstrem seperti banjir, longsor, dan genangan masih menjadi ancaman nyata saat ini.
Pengaruh El Niño dan Monsun di Indonesia
BMKG mencatat bahwa pada skala global, fenomena El Niño-Southern Oscillation (ENSO) berada dalam fase negatif, yang mengindikasikan terjadinya La Niña lemah. Hal ini meningkatkan kemungkinan pasokan uap air, mendukung pertumbuhan awan hujan terutama di wilayah timur Indonesia.
Selain itu, aktivitas Monsun Asia yang berperan dalam memicu cuaca ekstrem diperkirakan akan tetap berlanjut hingga dasarian pertama Februari. Dalam konteks ini, Cross Equatorial Northerly Surge (CENS) juga diantisipasi akan terus aktif, mempengaruhi pola cuaca regional.
BMKG memberi perhatian ekstra terhadap potensi pembentukan tekanan rendah di Samudra Hindia selatan Banten dan area sekitarnya. Kondisi ini bisa berdampak langsung pada pola angin yang berkonvergensi di Indonesia bagian selatan, memperbesar kemungkinan terjadinya cuaca ekstrem.
Prakiraan Cuaca Mingguan Berdasarkan Data Terbaru
Dalam laporan cuaca untuk periode 27-29 Januari 2026, BMKG memperkirakan sebagian besar wilayah Indonesia akan mengalami hujan ringan hingga lebat. Peringatan dini terkait potensi hujan lebat hingga ekstrem juga dikeluarkan untuk sejumlah daerah di Tanah Air.
Daerah yang diperkirakan akan mengalami hujan lebat mencakup Bengkulu, Banten, dan beberapa provinsi di Pulau Jawa. Sementara itu, untuk periode 29 Januari hingga 2 Februari, hujan ringan hingga lebat masih akan mendominasi, dengan risiko hujan sangat lebat di beberapa daerah.
Berdasarkan data yang diolah BMKG, terdapat juga peringatan mengenai potensi angin kencang yang akan melanda Nusa Tenggara Barat dan Timur, serta Sulawesi Selatan. Hal ini menjadi perhatian karena berpotensi menambah resiko bencana di wilayah-wilayah tersebut.
Evaluasi Cuaca Sepekan yang Telah Berlalu
Selama periode 23-26 Januari, BMKG melaporkan terjadinya hujan lebat hingga ekstrem di berbagai daerah. Curah hujan tertinggi tercatat di DKI Jakarta, diikuti oleh beberapa wilayah seperti Banten dan Jawa Barat.
Pola curah hujan ini dipengaruhi oleh penguatan aktivitas Monsun Asia, yang ditandai dengan peningkatan kecepatan angin di Laut Cina Selatan. Keberadaan massa udara dingin dari utara yang bergerak ke selatan juga berkontribusi terhadap intensitas hujan yang tinggi.
Lebih lanjut, BMKG mencatat bahwa pola awan enemy tropis (ITCZ) memanjang dari Samudra Hindia barat hingga Nusa Tenggara. Ini mengindikasikan adanya pertemuan berbagai sistem cuaca yang dapat memicu pembentukan hujan yang lebih intens.
Sistem Siklon Tropis Luana yang melemah juga diketahui sebagai faktor yang mempengaruhi pola cuaca selama sepekan lalu. Akibatnya, kelembapan udara yang tinggi dan atmosfer yang labil memicu terjadinya bencana hidrometeorologis di sejumlah daerah.
Dengan demikian, BMKG mengimbau semua pihak untuk tetap waspada terhadap berbagai kemungkinan yang dapat terjadi akibat cuaca ekstrem, termasuk intensitas hujan dan potensi terjadinya banjir serta longsor.










