Festival sakura yang terkenal di Jepang untuk tahun ini dibatalkan di kawasan Gunung Fuji. Keputusan ini diambil oleh pihak berwenang setempat sebagai respons terhadap meningkatnya jumlah wisatawan dan perilaku yang dianggap mengganggu kehidupan masyarakat setempat.
Pembatalan tersebut diumumkan oleh Pemerintah Kota Fujiyoshida pada awal Februari, dan dalam festival ini, biasanya dapat mengundang hingga 200 ribu pengunjung setiap musim semi, berkat pemandangan indah Gunung Fuji yang memukau.
Keputusan ini mencerminkan tantangan yang dihadapi oleh kawasan wisata yang semakin populer, di mana keindahan alamnya kerap menjadi viral di media sosial. Namun, lambat laun, dampak negatif dari lonjakan wisatawan mulai dirasakan secara nyata oleh penduduk lokal.
Pengaruh Negatif Overtourism di Kawasan Wisata
Festival sakura di Taman Arakurayama Sengen merupakan acara tahunan yang telah berlangsung selama hampir satu dekade. Meski menyuguhkan keindahan yang menawan, pemerintah lokal melaporkan berbagai masalah serius yang ditimbulkan oleh meningkatnya jumlah turis.
Masalah seperti kemacetan lalu lintas, tumpukan sampah, dan gangguan terhadap kehidupan sehari-hari warga menjadi perhatian utama. Dalam beberapa tahun terakhir, kondisi ini semakin memburuk dan memicu keprihatinan di dalam komunitas.
“Gunung Fuji bukan hanya sekadar objek wisata bagi kami, tetapi juga bagian dari kehidupan sehari-hari kami,” tutur Wali Kota Fujiyoshida, Shigeru Horiuchi. Ia menekankan pentingnya menjaga ketenangan dan martabat warga setempat yang mulai terancam oleh lonjakan jumlah wisatawan.
Masalah yang Muncul Akibat Lonjakan Wisatawan
Masyarakat lokal telah melaporkan variasi perilaku turis yang tidak sopan, seperti memasuki rumah tanpa izin hanya untuk menggunakan toilet atau buang air sembarangan di area publik. Permasalahan ini jelas menimbulkan ketidaknyamanan bagi warga yang hidup di sekitarnya.
Kepadatan turis juga berimplikasi pada keselamatan anak-anak yang bersekolah di dekat tempat wisata. Dalam hal ini, anak-anak sering kali terpaksa terdorong keluar dari trotoar yang mengakibatkan kecemasan akan keselamatan mereka.
Beberapa faktor yang mendorong lonjakan ini mencakup melemahnya nilai yen, yang membuat Jepang menjadi lebih terjangkau bagi wisatawan asing. Selain itu, media sosial memperkuat daya tarik untuk mengambil foto sakura yang berlatarkan Gunung Fuji, yang dikenal sebagai salah satu lokasi paling fotogenik di dunia.
Tindakan Pemerintah untuk Mengatasi Masalah Overtourism
Pemerintah Kota Fujiyoshida berharap agar meskipun festival sakura dibatalkan, arus wisatawan dapat dikelola dengan lebih baik melalui langkah-langkah pengamanan. Mereka juga bersiap menghadapi peningkatan kunjungan yang mungkin tetap tinggi selama musim mekarnya bunga sakura.
Pertimbangan telah dilakukan untuk mempersiapkan penempatan petugas keamanan, penyediaan toilet portabel, dan anjuran bagi wisatawan untuk menggunakan transportasi umum. Kegiatan ini diharapkan dapat mengurangi dampak negatif dari kunjungan massal ini.
Pihak berwenang juga mengingatkan agar wisatawan tidak memasuki area permukiman, tidak melanggar properti pribadi, serta menghindari pengambilan foto tanpa izin. Dengan cara ini, mereka berharap dapat menjaga keharmonisan antara pengunjung dan masyarakat lokal.
Upaya untuk mengatasi masalah ini menjadi bagian dari inisiatif yang lebih luas di Jepang dalam menghadapi tantangan overtourism, terutama di kawasan Gunung Fuji. Dalam beberapa tahun terakhir, berbagai kebijakan telah diberlakukan, termasuk biaya masuk bagi pendaki dan pembatasan jumlah pengunjung yang dapat memasuki lokasi wisata setiap harinya.
Beberapa langkah ini, meskipun menuai pro dan kontra, mulai menunjukkan hasil positif dalam mengurangi jumlah kunjungan wisatawan. Otoritas setempat menegaskan bahwa kebijakan serupa dapat kembali diterapkan jika lonjakan turis kembali tak terjamin dan merugikan masyarakat setempat.









