Ford Motor Company telah mengumumkan pengurangan nilai aset yang signifikan sebesar US$19,5 miliar, atau sekitar Rp325,55 triliun, sebagai dampak dari pergeseran kebijakan dan penurunan minat terhadap mobil listrik di Amerika Serikat. Ini adalah langkah drastis yang menunjukkan tantangan yang dihadapi oleh perusahaan otomotif tersebut dalam menghadapi dinamika pasar yang terus berubah.
Keputusan ini diambil setelah mempertimbangkan berbagai faktor, termasuk pembatalan model mobil listrik dan perubahan kebijakan pemerintah yang berdampak langsung pada tingkat penjualan. CEO Ford, Jim Farley, menegaskan bahwa perubahan ini merupakan respons terhadap kondisi pasar otomotif yang sedang bergejolak.
Pengaruh Kebijakan Pemerintah terhadap Pasar Otomotif
Kebijakan pemerintah yang salah satu aspeknya mencabut dukungan untuk mobil listrik telah menjadi salah satu penyebab utama penurunan penjualan EV. Selain itu, keputusan untuk melonggarkan aturan emisi juga memberikan insentif bagi konsumen untuk beralih ke kendaraan berbahan bakar fosil, yang tentu berdampak negatif pada penjualan kendaraan listrik.
Data menunjukkan bahwa penjualan mobil listrik di AS turun hingga 40 persen pada bulan November. Penurunan ini diperparah dengan berakhirnya kredit pajak konsumen yang berlaku hingga akhir September. Semua faktor ini menciptakan tekanan yang besar bagi perusahaan untuk segera melakukan penyesuaian strategi.
Ford juga menghadapi tantangan besar dari segi persaingan di pasar otomotif, di mana produsen lain yang fokus pada mobil listrik pun mengalami kesulitan. Ini menjadi indikasi bahwa jalan menuju dominasi dalam segmen EV mungkin tidak semulus yang dibayangkan.
Strategi Baru Ford dalam Menghadapi Tantangan Pasar
Sebagai bagian dari strategi baru, Ford memutuskan untuk menghentikan beberapa model mobil listrik yang awalnya direncanakan. Salah satu akibat langsung dari keputusan ini adalah pembatalan proyek pengembangan generasi baru dari F-150 Lightning, yang sebelumnya dianggap sebagai salah satu produk unggulan.
Alih-alih terus melanjutkan proyek yang mungkin tidak menghasilkan laba, Ford kini berencana untuk menggantinya dengan model hybrid yang dikenal sebagai range-extended electric vehicle (EREV). Hal ini menunjukkan pergeseran fokus dari kendaraan listrik murni menuju alternatif yang mungkin lebih menarik bagi konsumen.
Dari perspektif finansial, Ford berencana mengalokasikan investasi pada model yang lebih terjangkau, dengan target harga sekitar US$30 ribu untuk produk yang akan diluncurkan pada tahun 2027. Ini menjadi bagian dari strategi untuk menjangkau segmen pasar yang lebih luas.
Realokasi Sumber Daya dan Investasi yang Lebih Efisien
Di tengah tekanan finansial, Ford mengambil langkah realokasi sumber daya untuk menjamin keberlangsungan bisnisnya. Ini melibatkan pengurangan investasi pada kendaraan listrik yang dianggap tidak menghasilkan laba dan penyaluran dana tersebut ke area yang lebih menguntungkan.
Andrew Frick, Kepala Operasi Kendaraan Bensin dan Listrik Ford, menyatakan bahwa pengeluaran untuk pengembangan kendaraan listrik yang lebih besar tidak lagi menjadi prioritas. Pendekatan yang lebih pragmatis ini diharapkan akan membawa pengembalian investasi yang lebih baik dalam jangka panjang.
Langkah-langkah ini menjadi sinyal bahwa Ford tidak hanya berupaya untuk bertahan, tetapi juga untuk beradaptasi dengan perubahan lanskap pasar yang cepat, dengan menempatkan diri dalam posisi yang lebih menguntungkan di masa depan.









