Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) baru-baru ini mengungkapkan bahwa penipuan digital atau scam di Indonesia mengalami peningkatan yang signifikan dalam beberapa waktu terakhir. Tren ini menimbulkan kekhawatiran di kalangan masyarakat, terutama mengingat banyaknya pengguna yang terpapar pesan-pesan penipuan setiap minggu.
Direktur Jenderal Ekosistem Digital Komdigi, Edwin Hidayat Abdullah, menyatakan bahwa sekitar 65 persen pengguna seluler di Indonesia menerima pesan atau panggilan scam minimal satu kali per minggu. Hal ini menunjukkan bahwa penipuan digital kini menjadi masalah serius yang perlu diperhatikan oleh berbagai pihak.
Satu laporan menunjukkan bahwa hingga Oktober 2025, total kerugian yang dilaporkan akibat scam mencapai Rp7 triliun. Namun, jumlah dana yang berhasil dipulihkan hanya Rp365,5 miliar, yang artinya hanya sekitar 5,4 persen dari total kerugian dapat dikembalikan kepada korban.
Seiring dengan perkembangan zaman, penipuan digital semakin canggih dan beragam. Penipuan yang menggunakan teknologi tinggi ini memanfaatkan berbagai metode untuk menipu orang-orang di dunia maya. Masyarakat perlu lebih waspada dan memahami cara-cara penipuan yang kerap terjadi.
Tren Peningkatan Penipuan Digital di Indonesia
Tren peningkatan penipuan digital di Indonesia telah menarik perhatian banyak pihak. Edwin menjelaskan bahwa lebih dari setengah pengguna ponsel mengalami tekanan karena menerima pesan atau panggilan yang mencurigakan.
Penggunaan teknologi canggih oleh pelaku scam membuat modus operandi mereka semakin sulit dikenali. Banyak dari penipuan ini menggunakan nomor telepon yang terlihat resmi dan email yang tampak asli untuk menipu korban.
Kurangnya kesadaran masyarakat tentang risiko ini menjadi pemicu berkembangnya kejahatan digital. Penyelidikan yang lebih dalam menunjukkan bahwa korban sering kali tidak melaporkan kejadian tersebut, sehingga kerugian sebenarnya mungkin jauh lebih besar dari yang tertera pada laporan resmi.
Dampak Penipuan Digital terhadap Masyarakat
Dampak dari penipuan digital sangat signifikan, terutama dalam hal keamanan data. Menurut Otoritas Jasa Keuangan (OJK), angka korban melalui Indonesia Anti-Scam Center mencapai ratusan ribu. Ini menunjukkan bahwa tidak sedikit orang yang terjebak dalam jaringan penipuan ini.
Rekening yang dilaporkan terkait penipuan digital juga meningkat, dengan lebih dari 400 ribu rekening yang diaktivasi secara ilegal. Hal ini menandakan bahwa penipuan ini telah merusak kepercayaan publik terhadap sistem keuangan digital.
Selain dampak ekonomi, penipuan digital juga memengaruhi psikologis korban. Banyak orang merasa tertekan dan khawatir akan keamanan finansial mereka setelah menjadi korban scam.
Upaya Pemerintah dalam Mengatasi Penipuan Digital
Pemerintah Indonesia, melalui Komdigi, berusaha keras untuk mengatasi masalah penipuan digital. Salah satu langkah penting yang diambil adalah memperkuat kebijakan dan dukungan teknologi untuk menjaga ekosistem digital agar tetap aman.
Kolaborasi antara pemerintah, operator seluler, dan masyarakat sangat diperlukan untuk menciptakan lingkungan digital yang lebih aman. Edukasi kepada masyarakat mengenai cara mengenali penipuan juga menjadi salah satu fokus utama.
Dari sisi teknologi, Komdigi sedang menyelesaikan konsultasi publik mengenai penggunaan teknologi pengenalan wajah atau face recognition untuk membantu proses registrasi kartu seluler. Langkah ini diharapkan dapat mengurangi risiko penipuan yang terjadi akibat penyalahgunaan identitas.











