Kisah pelarian Ronald Arthur Biggs telah mengguncang Inggris, memicu kepanikan di kalangan aparat kepolisian. Ia dikenal sebagai salah satu penjahat terbesar dalam sejarah Inggris, terlibat dalam perampokan besar yang mencuri sejumlah besar uang dan mengubah hidupnya selamanya.
Perampokan tersebut, yang dikenal dengan nama Great Train Robbery, terjadi pada tahun 1963 dan menjadi momen yang dicatat dalam sejarah kriminologi. Dengan keterampilan perencanaan yang matang dan keberanian tanpa batas, Biggs dan komplotannya berhasil mengeksekusi rencana yang menjadi sorotan dunia.
Perobekan keamanan yang ketat dan kelincahan mereka dalam menjalankan aksi menjadi cermin dari kecerdasan kriminal yang ekstrem. Penangkapan Biggs kemudian menimbulkan harapan bagi masyarakat bahwa keadilan akan ditegakkan, namun perjalanan cerita ini tidak berakhir dengan mudah.
Pemburuan dan Penangkapan Ronald Biggs
Sejak ditangkap pada September 1963, Biggs dihadapkan pada vonis yang berat, yakni 30 tahun penjara. Sanksi tersebut seakan menjadi hukuman seumur hidup bagi sebagian orang, tetapi tidak bagi Biggs yang memiliki rencana kabur yang cerdik.
Dua tahun kemudian, pada 1965, ia berhasil melarikan diri dari Penjara Wandsworth yang terkenal akan sistem keamanannya. Pelarian ini menjadi momen yang sangat mengejutkan, terlebih karena metode yang digunakan untuk taklukkan penjara tersebut.
Kebebasan yang diperolehnya membuat Biggs terbang ke luar negeri, menjelajahi Eropa dan mencoba membangun kehidupan baru yang jauh dari kepolisian. Namun, jejaknya tetap dicari, dan rumor pun menyebar bahwa ia mungkin telah beralih ke negara-negara di Asia.
Operasi Intelijen dan Kesalahpahaman yang Mengundang Kontroversi
Dengan kepulangan informasi mengenai seseorang dengan nama belakang “Biggs” di Indonesia, Badan Intelijen Negara berusaha memburu petunjuk lebih lanjut. Pengintaian yang dilakukan selama tiga minggu menjadi fokus utama untuk memastikan apakah Sekiranya Ronald Biggs berada di negara tersebut.
Ketika identitas yang ditemukan ternyata adalah Donald Biggs, seorang pendeta dari Amerika Serikat, kekeliruan ini menunjukkan betapa sulitnya melacak buronan dengan nama yang serupa. Hal ini mengingatkan akan tantangan yang sering dihadapi oleh lembaga intelijen dalam menyusuri jejak kriminal.
Meski demikian, kekecewaan menghampiri saat mereka menyadari bahwa penyeberangan batas hukum Ronald Biggs bukanlah di negara yang mereka duga. Ternyata, ia melanjutkan hidup dalam pengetahuan bahwa Brasil tidak memiliki perjanjian ekstradisi dengan Inggris.
Perjalanan Hidup di Brasil dan Kembalinya ke Inggris
Di Brasil, Biggs memulai hidup baru yang jauh dari bayang-bayang kejahatan. Ia menikmati kebebasan yang didapat jauh dari perburuan, berusaha menjalani kehidupan normal meski tetap dengan masa lalu yang kelam. Venturanya di tanah asing memberikan kesempatan untuk memulai dari awal tanpa tekanan hukum yang mengejar.
Pada tahun 2001, keputusannya untuk kembali ke Inggris menjadi titik balik yang mengejutkan bagi banyak orang. Pada usia 70-an, dia disambut oleh kepolisian dan kembali dihadapkan pada hukum yang pernah dikhawatirkannya.
Kembali dipenjara tidak menjamin bahwa Biggs akan menjalani hidup dengan cara yang sama. Kesehatan yang menurun membuat pihak berwenang mempertimbangkan untuk membebaskannya. Momen ini menggambarkan pertarungan yang lebih besar antara hukum dan kemanusiaan dalam kasus-kasus seperti Biggs.











