Seorang pria telah menjalani eksperimen diet yang cukup ekstrem, yaitu pola makan One Meal a Day (OMAD) selama satu minggu. Ia berbagi pengalamannya untuk mengeksplorasi dampak diet ini terhadap kondisi fisiknya, termasuk perubahan energi dan berat badan. Hasil dari percobaan ini ternyata tidak sepenuhnya sesuai harapannya, memberikan wawasan baru tentang bagaimana pola makan yang ketat dapat memengaruhi kesehatan.
Dalam praktiknya, diet OMAD adalah bentuk puasa intermiten yang membatasi waktu makan seseorang hanya satu kali dalam sehari, biasanya dalam rentang waktu satu jam. Selama 23 jam berikutnya, individu tersebut akan menjalani puasa, meskipun diperbolehkan untuk mengonsumsi air dan minuman tanpa kalori, seperti teh atau kopi tanpa gula.
Pengalaman ini diambil oleh Will Tennyson, seorang kreator konten yang mendokumentasikan perjalanan dietnya melalui platform media sosial. Ia ingin mengetahui apakah strategi makan ini dapat memengaruhi berat badannya dan bagaimana dampaknya terhadap aktivitas olahraga sehari-hari.
Pola Makan yang Ketat dan Rutinitas Sehari-hari
Will Tennyson memulai diet OMAD dengan mengkonsumsi porsi besar makanan dalam satu waktu. Meski dia telah terbiasa berolahraga dengan perut kosong, dia merasa tantangan mulai muncul. Energi yang diharapkan dari pola makan tersebut tidak selalu sejalan dengan kenyataan, terutama saat mengikuti kelas olahraga di sore hari.
Selama beberapa hari pertama, Tennyson merasakan serangan rasa lapar yang menghantui pikirannya. Ia makan sekitar pukul enam sore, dan menjelang waktu tersebut, rasa ingin makan semakin meluap. Hal ini membuatnya merasa terjebak dalam lingkaran dorongan untuk makan berlebihan saat waktu makan tiba.
Pada hari keempat, situasinya semakin menantang. Rasa lapar kerap datang tanpa peringatan, mendorongnya untuk meningkatkan konsumsi kafein atau mencari cara lain untuk mengalihkan perhatian dari makanan. Rutinitas sosialnya pun terganggu, karena ia tidak bisa bergabung dengan teman-teman saat mereka makan.
Perubahan yang Terjadi Selama Diet OMAD
Memasuki hari kelima, Tennyson mulai merasakan perkembangan positif. Ia mulai mampu membedakan antara rasa lapar yang sebenarnya dan dorongan emosional untuk makan. Ternyata, beberapa kali rasa lapar yang muncul dapat diatasi hanya dengan minum air atau kopi hitam. Ini menjadi pembelajaran penting baginya selama menjalani diet ini.
Setelah tujuh hari, berat badan Tennyson mengalami penurunan sekitar 1,7 kilogram, namun pengalaman tersebut tetap dinilainya sangat sulit. Ia menggarisbawahi bahwa pola makan ini terasa ekstrem dan sulit untuk dijalani secara berkelanjutan. Dalam pandangannya, diet ini mungkin tidak akan cocok untuk kebanyakan orang.
Saat menilai eksperimen ini, dia menyadari bahwa meskipun ada penurunan berat badan, prosesnya menuntut disiplin dan kesiapan mental yang tinggi. Hal ini menjadikannya merenungkan kembali komitmennya terhadap pola makan yang sehat.
Manfaat dan Risiko dari Diet OMAD
Menurut informasi yang beredar, diet OMAD bekerja dengan cara menurunkan kadar insulin dalam tubuh saat menjalani puasa panjang. Ketika karbohidrat dicerna, tubuh tertentu akan mengubahnya menjadi gula darah, dan kelebihan gula ini disimpan sebagai lemak berkat hormon insulin. Dengan puasa yang lebih panjang, level insulin menurun, dan tubuh mulai menggunakan cadangan lemak sebagai energi.
Beberapa penelitian menunjukkan, puasa intermiten termasuk OMAD, bisa menjadi metode efektif untuk menurunkan berat badan bagi sebagian orang. Meski demikian, penelitian jangka panjang mengenai keamanan dan efektivitasnya masih terbatas, dan hasilnya dapat bervariasi tergantung individu.
Risiko dari diet ini juga perlu dicermati. Beberapa studi mengaitkan pola makan satu kali sehari dengan peningkatan tekanan darah, kadar kolesterol yang tidak sehat, dan lonjakan gula darah. Dalam satu penelitian, pola ini bahkan dihubungkan dengan peningkatan risiko kematian akibat penyakit kardiovaskular.







