Pertunjukan mode Dior Men untuk musim dingin 2026-2027 di Musée Rodin, Paris, menjadi langkah signifikan dalam kepemimpinan Jonathan Anderson di rumah mode terkemuka ini. Digelar pada 21 Januari 2026, acara ini merupakan peragaan kedua Anderson setelah koleksi perdana yang dirilis pada Juli 2025, menampilkan pernyataan yang kuat dan provokatif tentang kondisi aristokrasi modern.
Koleksi ini mengajak penonton untuk merenungkan makna aristokrasi, yang tidak lagi diukur oleh kekayaan atau kelas sosial. Melainkan, karakter baru ini didasarkan pada eksentrik, sikap, dan cara berpakaian yang memancarkan kebebasan.
Anderson menyebut karyanya sebagai eksplorasi terhadap konsep “dressing versus dressing up,” yang menawarkan pemahaman baru tentang bagaimana menampilkan diri. Dalam konteks ini, kehadiran “the Dior aristo-youth” menjadi pusat perhatian: generasi baru yang mencerminkan pemikiran kritis dan kreativitas.
Desain dan Estetika yang Berani dalam Koleksi Dior Men
Dalam koleksi kali ini, setiap elemen dirancang dengan cermat; para model tampil dengan gaya yang mencolok, mengenakan wig sintetis kuning menyala dan pakaian yang terinspirasi dari era 1920-an. Jaket parka yang longgar berpadu dengan sentuhan tailoring yang rapi menciptakan keseimbangan menarik antara klasik dan modern.
Paduan yang terus menerus antara yang tradisional dan inovatif ditunjukkan dalam setiap tampilan. Anderson menggabungkan referensi yang beragam dan menciptakan estetika yang dinamis, menggambarkan visi seniman yang bebas.
Penggunaan bar jacket ikonik Dior yang dipotong lebih pendek serta mantel dengan lekuk pinggul yang unik menciptakan kesan menantang konvensi. Dengan demikian, setiap hasil desain memperlihatkan kecermatan Anderson dalam memanipulasi proporsi pakaian.
Menggali Ketidaksempurnaan dalam Estetika Mode
Anderson memiliki ketertarikan khusus terhadap elemen visual yang mungkin terasa “salah tempat.” Misalnya, epaulet dari seragam militer mendapat pembaruan yang tidak fungsional namun mencolok, menegaskan pengaruh akan kekuatan visual layaknya pangkat atau otoritas.
Namun, inilah justru yang memicu ketegangan dalam cara pandang terhadap mode, mendobrak batas-batas tradisional. Material yang dipilih pun memperkuat narasi sembari menciptakan pengalaman sensorial yang kaya.
Dengan menghadirkan kombinasi material seperti Donegal tweeds yang kasar dan beludru berkilau, Anderson menciptakan tekstur yang semakin mendalam, nuansa yang nyaris teatrikal dan menggoda jiwa seni.
Perpaduan antara Fungsionalitas dan Keberanian Desain
Menariknya, elemen luar menjadi sorotan dalam koleksi ini; Anderson menggabungkan fungsionalitas dan kemewahan. Bentuknya pun memainkan peran, mulai dari bomber yang berlapis mirip baju zirah hingga mantel kepompong berkerah bulu yang mencolok.
Pendekatan ini menunjukkan ambisi untuk menjembatani dunia streetwear, couture, dan eksperimen gender-fluid dalam satu kesatuan visual yang harmonis. Ini adalah cara Anderson berkomunikasi dengan konsumen yang semakin menolak batasan tradisional dalam berpakaian.
Kendati demikian, beberapa kritikus berpendapat bahwa terlalu banyak referensi yang ditampilkan menjadikan koleksi ini tampak berlebihan. Mulai dari seni, film, hingga musik, semua elemen tersebut saling bersaing, menciptakan koleksi yang kadang tampak tidak terarah.
Keseimbangan antara Provokasi dan Penyampaian Estetika yang Jelas
Beberapa tampilan di koleksi ini masih dapat diperdebatkan; misalnya, celana kargo rumit dan tailcoat rajut yang mungkin lebih cocok dianggap sebagai eksperimen ketimbang pernyataan menyeluruh. Ini menunjukkan bahwa tidak semua inovasi berhasil menyeimbangkan antara provokasi dan visi desain yang tercermin dengan baik.
Namun, di tengah kondisi industri fesyen yang stagnant dan banyak merek lebih memilih jalan aman, kehadiran Anderson memberikan perspektif yang layak dicatat. Ia tidak takut mengambil risiko dan menantang norma yang ada, memberikan kontribusi yang berarti bagi dunia mode.
Melalui pendekatan yang berani, Anderson menciptakan identitas yang berbasis pada kualitas kerajinan dan gagasan yang unik, merangkul berbagai elemen dalam karyanya yang saling tumpang tindih.
Koleksi Dior Men yang dihadirkan Jonathan Anderson mungkin tidak selalu nyaman atau mudah dipahami. Namun, kekuatan koleksi ini terletak pada ketegangan, keanehan, dan keberaniannya, menjadikannya relevan di tengah perkembangan zaman.
Peran seorang desainer dalam rumah mode besar seperti ini bukan sekadar menciptakan pakaian yang dapat dipakai. Lebih dari itu, ini adalah kesempatan untuk mendefinisikan ulang dan merangsang diskusi tentang warisan mode yang terus berkembang di tangan generasi muda.
Walau pilihan setelan jas, kemeja, atau celana denim tetap ada di butik, runway menawarkan eksplorasi yang lebih dalam. Ini adalah tempat untuk menghadirkan ide-ide yang berani dan menantang konvensi, serta mempersembahkan visi masa depan mode kepada dunia.










