Sistem kesehatan di Indonesia, khususnya dalam konteks pemberantasan penyakit, pernah mendapat pengakuan internasional pada dekade 1950-an. Pada saat itu, Indonesia menjadi rujukan dunia dalam menangani penyakit menular yang dikenal sebagai frambusia, sebuah penyakit yang memiliki dampak serius meskipun tidak langsung mematikan.
Frambusia, yang disebabkan oleh bakteri Treponema, dapat menimbulkan luka terbuka dan kerusakan jaringan. Masyarakat Indonesia yang tinggal di daerah yang padat dan memiliki sanitasi yang buruk menjadi sangat rentan terhadap penyakit ini, terutama di pedesaan.
Dalam beberapa dekade, meski upaya pengobatan sudah dilakukan, seperti dengan memberikan penisilin, efektivitasnya sering terhalang oleh kondisi lingkungan yang buruk. Munculnya frambusia kembali setelah pengobatan menunjukkan bahwa langkah-langkah tersebut memang tidak menyelesaikan akar masalah yang ada.
Akhirnya, pada awal 1950-an, kebangkitan dalam perjuangan melawan frambusia muncul berkat seorang dokter bernama Raden Kodijat. Ia memahami pentingnya pendekatan yang lebih komprehensif dalam memberantas penyakit ini dengan mencari dan mengobati sumber dari infeksi.
Pendekatan Revolusioner dalam Penanganan Frambusia di Indonesia
Raden Kodijat mengembangkan metode yang berfokus pada deteksi aktif penyakit. Alih-alih hanya mengobati pasien yang datang berobat, ia berupaya mendeteksi gejala frambusia dalam seluruh populasi di suatu wilayah. Metode ini menandai awal dari pendekatan yang lebih holistik terhadap masalah kesehatan masyarakat.
Setelah menemukan orang-orang yang teridentifikasi sebagai penderita atau pernah kontak dengan frambusia, mereka langsung mendapatkan pengobatan. Biasanya, proses ini melibatkan suntikan rutin dan pemeriksaan ulang untuk memastikan penyembuhan total.
Pelaksanaan program ini terjadi antara 1951 hingga 1956, dan dalam waktu lima tahun, upaya tersebut mampu menjangkau sekitar 85% penduduk Indonesia. Penurunan yang signifikan dalam jumlah penderita frambusia teramati, menjadi salah satu prestasi besar di bidang kesehatan.
Impact Global dari Program Pemberantasan Frambusia
Tren penurunan jumlah kasus frambusia dengan cepat menarik perhatian dunia internasional. Angka kejadian frambusia yang awalnya 20% pada tahun 1951, menurun menjadi hanya 1% pada tahun 1956. Penurunan ini menunjukkan keberhasilan yang luar biasa dalam deteksi dan pengobatan waktu itu.
Berhasilnya program ini menjadikan Indonesia sebagai model global dalam pengendalian penyakit yang disebabkan oleh bakteri Treponema. Dalam periode ini, Indonesia juga terlibat dalam proyek internasional yang didanai WHO dan UNICEF untuk pengendalian frambusia.
Raden Kodijat dan rekannya, Soetopo, memiliki peranan kunci dalam memimpin program ini. Pengalaman mereka sebagai dokter daerah memberi wawasan penting yang menjadi dasar kebijakan internasional dalam mengatasi masalah kesehatan masyarakat.
Penerapan Metode oleh Negara Lain dan Hasilnya
Tidak hanya Indonesia, negara-negara lain seperti Malaya, Thailand, dan Nigeria, mulai mengadopsi metode pemberantasan penyakit yang diprakarsai oleh Raden Kodijat. Hasilnya cukup mengejutkan, jumlah penderita frambusia di negara-negara tersebut mengalami penurunan yang signifikan.
Metode yang diterapkan dengan mendeteksi dan mengobati secara masif menghasilkan efek domino di banyak wilayah. Masyarakat menjadi lebih sadar akan pentingnya kesehatan dan tindakan pencegahan terhadap penyakit menular.
Keberhasilan ini juga menyiratkan bahwa ketika penanganan dilakukan secara sistematis dan terencana, hasil yang diperoleh bisa sangat memuaskan. Frambusia yang dulu menjadi momok kini bukan lagi hal yang menakutkan.
Prestasi ini mengingatkan kita bahwa upaya kolektif dan perencanaan yang matang sangat diperlukan dalam dunia kesehatan. Pendekatan yang berkelanjutan, tidak hanya dalam pengobatan tetapi juga dalam peningkatan fasilitas kesehatan dan edukasi, adalah kunci untuk menggempur masalah kesehatan masyarakat secara efektif. Hal ini menjadi warisan berharga bagi sistem kesehatan Indonesia tahun-tahun mendatang.










