Diskusi mengenai susu mentah atau yang biasa dikenal dengan istilah raw milk kian marak belakangan ini. Banyak orang berspekulasi tentang kemampuannya dalam mencegah alergi dan asma pada anak-anak, namun klaim ini memerlukan tinjauan lebih mendalam.
Sebagai seorang dokter spesialis gizi klinis, Johannes Chandrawinata menjelaskan bahwa hingga saat ini, tidak ada bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa konsumsi susu mentah memiliki korelasi positif dalam mencegah kedua kondisi tersebut.
Pengamatan yang ada mungkin menunjukkan bahwa anak-anak yang dibesarkan di lingkungan peternakan cenderung memiliki tingkat alergi dan asma yang lebih rendah. Namun, hal ini tidak serta merta berarti bahwa konsumsi susu mentah adalah faktor penyeimbangnya.
“Faktor-faktor lingkungan di sekitar anak jauh lebih kompleks dan beragam,” ujarnya. “Dalam hal ini, penelitian yang mendalam masih diperlukan untuk menemukan hubungan yang jelas.”
Saat ini, tren susu mentah mulai naik daun berkat promosi yang menggambarkan produk ini sebagai ‘lebih alami’ dan ‘lebih sehat’. Namun, Johannes mengingatkan bahwa risiko kesehatan yang mungkin ditimbulkan jauh lebih besar dibandingkan dengan klaim-klaim tersebut.
Salah satu klaim yang sering didengar adalah bahwa susu mentah mengandung probiotik alami. Namun, ini tidaklah sesederhana yang dibayangkan.
Kontradiksi Antara Klaim dan Realita Susu Mentah
Susu mentah memang bisa mengandung bakteri, tetapi bukan berarti bakteri tersebut selalu baik untuk kesehatan. “Belum ada jaminan bahwa bakteri dalam susu mentah adalah probiotik yang bermanfaat,” tegas Johannes.
Perlu dicatat, keberadaan bakteri dalam susu mentah sering kali merupakan indikasi adanya kontaminasi, terutama dari kotoran hewan atau manusia. Ini berpotensi menimbulkan risiko kesehatan yang serius.
Berlawanan dengan susu pasteurisasi yang dipanaskan untuk membunuh patogen, susu mentah tidak mengalami proses pemanasan yang memadai. Ini artinya, produk ini bisa mengandung berbagai mikroorganisme berbahaya yang dapat menyebabkan penyakit.
Beberapa patogen berbahaya yang sering ditemukan dalam susu mentah antara lain:
- Salmonella
- E. coli
- Listeria
- Campylobacter
- Brucella
Patogen-patogen ini dapat mengakibatkan keracunan makanan dengan gejala seperti muntah, diare, dan demam. Dalam kasus yang lebih serius, infeksi tersebut dapat berujung pada gagal ginjal atau bahkan kematian.
Pentingnya Proses Pasteurisasi dan Keamanan Konsumsi Susu
Johannes menegaskan bahwa tidak ada keuntungan yang signifikan dari konsumsi susu mentah dibandingkan dengan susu pasteurisasi. “Risiko kesehatannya jelas lebih besar,” tegasnya.
Sampai saat ini, tidak ada penelitian yang mendukung klaim bahwa konsumsi susu mentah dapat mencegah alergi atau asma. Oleh karena itu, susu pasteurisasi masih menjadi pilihan yang lebih aman, khususnya untuk kelompok yang rentan seperti anak-anak, ibu hamil, dan orang berusia lanjut.
Bagi siapa pun yang ingin mendapatkan manfaat nutrisi dari susu, sangat penting untuk memilih produk yang telah melalui proses yang aman dan higienis. Meskipun susu mentah terdengar alami, risikonya terlalu tinggi untuk diabaikan.
Alternatif Pilihan Susu yang Aman bagi Keluarga
Orang tua sebaiknya lebih berhati-hati dalam memilih jenis susu untuk anak-anak mereka. Dalam banyak kasus, susu yang telah dipasteurisasi menjadi pilihan yang lebih baik untuk kesehatan jangka panjang.
Keputusan untuk menggunakan susu pasteurisasi sebaiknya didasari oleh pemahaman akan risiko dan manfaat yang ada. Selain itu, pengetahuan tentang proses pengolahan produk susu juga sangat penting untuk menjaga kesehatan keluarga.
Keterbatasan informasi yang beredar dapat menyebabkan kebingungan di masyarakat. Karena itu, penting bagi konsumen untuk tidak hanya mengikuti tren, tetapi juga mencari informasi yang valid sebelum membuat keputusan.
Dalam era di mana informasi dapat diakses dengan mudah, edukasi tentang produk yang dikonsumsi menjadi sangat vital. Masyarakat diharapkan lebih kritis dan jeli dalam menyikapi klaim-klaim yang belum terbukti kebenarannya.
Dengan memahami risiko serta manfaat dari berbagai jenis susu, setiap individu dapat membuat pilihan yang lebih baik untuk kesehatan mereka dan keluarga. Sehingga, tidak ada yang perlu mengorbankan kesehatan demi mengikuti tren yang tidak terbukti secara ilmiah.











