Belakangan ini, media sosial menjadi wadah bagi banyak orang untuk berbagi pengalaman hidup mereka, termasuk momen-momen menegangkan saat bepergian. Dalam konteks ini, sebuah video viral menunjukkan bagaimana sebuah insiden turbulensi di pesawat dapat memicu reaksi yang beragam, mulai dari empati hingga hujatan dari warganet.
Video yang diunggah oleh seorang wanita bernama Mia ini menyita perhatian publik bukan hanya karena isinya, tetapi juga karena reaksi negatif yang timbul setelahnya. Dalam video tersebut, Mia terlihat mengalami serangan panik saat pesawat yang ditumpanginya mengalami turbulensi yang cukup kuat.
Meskipun awalnya video tersebut tampak sebagai bentuk ekspresi alami terhadap ketakutan, tidak sedikit warganet yang melontarkan kritik pedas. Hal ini menimbulkan perdebatan mengenai batasan antara reaksi manusiawi dan apa yang dianggap sebagai “drama” di media sosial.
Gambaran Awal Insiden Turbulensi yang Dialami Mia
Mia, seorang wanita asal Korea yang kini tinggal di Singapura, mengunggah video tersebut saat dirinya tengah dalam perjalanan. Dalam vlog yang diunggah, ia awalnya tampak santai, merekam setiap aktivitasnya, termasuk saat menikmati makanan di dalam pesawat.
Namun, keadaan mendadak berubah ketika pesawat mengalami guncangan. Mia tidak bisa menahan rasa takutnya dan mulai berteriak, mengekspresikan ketakutannya di depan kamera. Kejadian ini menjadikan video tersebut viral, menarik lebih dari 10 juta penonton dalam waktu singkat.
Meski demikian, reaksi netizen sebagian besar berfokus pada kritikan. Banyak yang menganggap respon Mia berlebihan dan mengarah pada tuduhan bahwa insiden tersebut hanya bagian dari pertunjukan atau settingan.
Reaksi Publik dan Pertanyaan yang Muncul
Setelah video tersebut viral, banyak warganet yang melontarkan komentar pedas. Mereka bertanya-tanya bagaimana seseorang yang mengalami serangan panik masih ingat untuk merekam dirinya sendiri. Kejadian ini memicu pertanyaan mengenai keaslian reaksi yang ditunjukkan Mia.
Beberapa warganet bahkan menyebut ketakutannya sebagai “serangan panik performatif”, menganggap bahwa Mia lebih mementingkan penayangan di media sosial daripada menangani ketakutannya dengan serius. Hal ini semakin menambah polemik di kalangan netizen.
Sebagai respon terhadap kritik tersebut, Mia berusaha menjelaskan situasinya lewat video klarifikasi. Dalam video baru tersebut, ia menekankan bahwa kejadian ini menciptakan trauma mendalam baginya, terutama karena dia memiliki pengalaman buruk sebelumnya di penerbangan lain.
Pengalaman Dramatis yang Masa Lalu Mia
Dalam video klarifikasi, Mia mengungkapkan bahwa ia pernah menjadi korban dari insiden penerbangan Singapore Airlines SQ321 yang mengakibatkan turbelensi parah. Insiden tersebut terjadi pada tahun 2024 dan mengakibatkan banyak cedera di antara penumpang, termasuk Mia yang mengalami patah tulang belakang.
Mia menunjukkan bukti nyata berupa foto hasil rontgen tulang belakang untuk memperkuat penjelasannya. Luka yang dialaminya pada insiden sebelumnya membuatnya merasa semua turbulensi adalah tanda bahaya yang nyata.
Trauma dari pengalaman tersebut sangat membekas di pikirannya, sehingga saat pesawat mengalami guncangan, dia kembali teringat akan insiden yang menyakitkan itu. Ini menjelaskan mengapa reaksi yang ditunjukkan Mia saat ini terasa begitu intens.
Menanggapi Kritikan dan Meminta Empati
Dalam klarifikasinya, Mia mengajak publik untuk lebih memahami ketakutan yang dialami setiap individu. Ia menegaskan bahwa ketakutan dan kecemasan tidak selalu terlihat sama bagi setiap orang. Apa yang mungkin tampak berlebihan bagi sebagian orang, bisa jadi adalah respons nyata dari pengalaman traumatis yang mendalam.
Mia menjelaskan bahwa dia mengedit video untuk keperluan hiburan, tetapi mungkin bagian penting dari emosinya terpotong sehingga memberikan kesan yang tidak akurat tentang apa yang dia alami. Dia berharap orang-orang dapat lebih sabar dan tidak cepat menilai reaksi orang lain.
Meskipun banyak komentar yang bersikap skeptis terhadap penjelasan Mia, ada juga yang memberikan dukungan. Beberapa netizen menyatakan bahwa mereka memahami perasaannya, meskipun mereka tidak bereaksi dengan cara yang sama. Pendapat ini menyoroti pentingnya empati di dunia maya.










